KUD Minosaroyo Butuh Permodalan untuk Eskpor

0
Ketua KUD Minosaroyo Cilacap Untung Jayanto (kiri) dan manejer Kusiyati. (suarakarya.co.id/indra)

CILACAP (Suara Karya): Koperasi Unit Desa Minosaroyo Cilacap, Jawa Tengah yang terus berkembang baik dari sisi unit usaha maupun pendapatan berharap sekali mendapat bantuan permodalan dari pemerintah agar bisa ekspor ikan ke mancanegara.

“Herannya, koperasi kami ini dianggap tidak perlu kucuran modal lagi, apalagi dari laporan keuangan kami per tahun menunjukkan volume usahanya naik dan aset kami meningkat. Kami dianggap Menteri Koperasi dan UKM tidak butuh dana lagi. Padahal, kami butuh untuk pengembangan unit-unit usaha sampai ekspor,” kata Ketua KUD Minosaroyo Untung Jayanto di Kantor KUD Minasaroyo, Cilacap, Jumat akhir pekan lalu.

Dalam kesempatan bincang-bincang mengenai koperasi yang bergerak dibidang kelautan dan perikanan tersebut, Untung didampingi Manajer KUD Minosaroyo Kusiyati, mengatakan, pihaknya sangat membutuhkan permodalan agar koperasi yang sudah mengelola Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cilacap sejak 2010 lalu bisa memperluas pemasaran ikan dan terus mengalami kemajuan.

“KUD ini mengalami kemajuan mulai dari unit-unit usaha yang ada bergerak dalam usaha penyaluran BBM untuk memenuhi kebutuhan nelayan di Kabupaten Cilacap. Jumlah anggota sekitar 8.400 nelayan baik yang aktif maupun pasif yakni mereka diantaranya para pendiri dan sudah berusia sekitar 60 tahun atau lebih,” ujarnya.

Berdiri sejak zaman Jepang pada 1942, awalnya berupa Koperasi Perikanan Laut (KPL), lalu menjadi BUUD (badan usaha unit desa) pada 1966 dan 1970-an menjadi KUD. KUD Minosaroyo saat ini kata Untung merupakan koperasi mandiri dengan omset usaha sampai Rp 300 miliar per tahun.

“Yang (membuat omsetnya) tinggi dari unit usaha penyaluran bahan bakar minyak (BBM) untuk nelayan mencapai ratusan miliar rupiah karena kita punya lima titik Stasiun Pengisian BBM (SPBUN),” kata Untung diamini Kusiyati.

Selain penyaluran BBM, unit usaha di KUD Minosaroyo yang beranggotakan lebih dari 840 nelayan meliputi, warung serba ada (waserda), kontraktor, simpan pinjam dan pelayanan umum seperti listrik, hingga air bersih.

“Kami mau bikin dan sekarang dalam proses perizinan untuk penyaluran BBM non subsidi untuk kapal bobot diatas 30 ton yang harus menggunakan BBM non subsidi,” jelas Untung yang hingga saat ini sudah tiga periode memimpin KUD Minosaroyo Kab. Cilacap.

Dalam upaya pengembangan usaha agar terealisasi, Untung bersama manejernya Kusiyati tetap berharap dukugan dana murah melalui pemerintah.

“Paling tidak, kalau memang ada dana murah untuk mengembangkan koperasi, terutama agar bisa menjadi eksportir, diperlukan pinjaman yang lebih murah dari LKM UKP,” ucapnya.

Sayangnya, tambah Kusiyati pemerintah beranggapan KUD Minosaroyo tidak memerlukan kucuran dana lagi dan di sisi lain beranggapan bahwa koperasi hampir selalu kurang bagus atas pengembalian pinjaman.

“Kami juga mengakui banyak sekali koperasi tidak komit pada pemerintah, tapi kadang-kadang pemerintah menyamakan saja semua koperasi. Perbankan swasta pun percaya pada kami, silahkan dilakukan apraisal, sampai jaminan juga ada. Tapi, pemerintah (terpengaruh) oleh koperasi yang berlabel jelek. Jadi, semua dipukul rata bahwa koperasi kurang bagus. Bahkan, kami tidak pernah terlambat meski pun sehari, tidak pernah dalam pengembalian pinjaman,” kata Kusiyati.

Merujuk pada company profile KUD Minosaroyo, selama tiga tahun terakhir volume usahanya menunjukkan peningkatan. Berturut-turut pada 2018, 2019 dan 2020, masing-masing sebesar Rp 246,7 miiar, Rp 247,2 miliar dan Rp 234,9 miliar.

Dari sisi permodalan, KUD Minosaroyo memiliki aset Rp 20,4 miliar pada 2018, Rp 24,4 miiar (2019) dan Rp 27,9 miliar pada 2020.

“Alhamdulillah koperasi kami berkembang terus, hanya kami harap pemerintah bisa memerikan prioritas agar unit usaha yang ada bisa berkembang dan kami bisa menjadi eksportir (kelas dunia),” ujarnya. (dra)