Larang Pengurus Parpol Jadi Senator, DPD Nilai MK Langgar Konstitusi

0
Wakil Ketua DPD RI, Nono Sampono

JAKARTA (Suara Karya): Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menilai Mahkamah Konstitusi telah melanggar konstitusi terkait syarat calon anggota DPD RI, antara lain Pasal 28I UUD 1945.

Pasal 28I ayat (1) menyebutkan: “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.”

“Sehubungan dengan itu, DPD RI prihatin terhadap ketidakpastian hukum yang terjadi akibat pelanggaran konstitusi yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi,” ujar Wakil Ketua DPD RI, Nono Sampono, kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (20/9) malam.

Menurut Nono Sampono, DPD RI menyatakan tidak percaya dengan kesungguhan Mahkamah Konstitusi untuk menjaga tegaknya pelaksanaan konstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pasalnya, putusan MK terkait latar belakang calon DPD, dianggap telah melanggar Pasal 28I UUD 1945.

“Perintah MK kepada KPU untuk melaksanakan Putusan MK No. 30/ PUU – XVI/ 2018 merupakan Putusan Ultra Petita dan melanggar Pasal 28I UUD 1945, yakni tidak boleh ada hukum yang berlaku surut,” ujar Nono.

Lebih lanjut, Nono menyatakan, DPD RI akan melakukan tindakan hukum untuk menghentikan pelanggaran/pelecehan konstitusi, antara lain melaporkan oknum hakim konstitusi ke dewan etik MK dan atau tindakan hukum lainnya sesuai aturan perundangan yang berlaku.

Nono Sampono juga menyatakan, DPD RI akan menggunakan hak politik untuk mengusulkan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas Mahkamah Konstitusi.

Sebelumnya, Pakar Hukum Tata Negara, Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak perlu mematuhi putusan MK Nomor 30/PUU-XVI/2018.

Dalam pertimbangan hukumnya, MK memerintahkan KPU melarang funsionaris partai menjadi calon anggota DDP dalam Pemilu 2019.

Yusril menilai, pertimbangan MK memerintahkan KPU untuk melakukan suatu tindakan tertentu telah melampaui kewenangan.

“Pertimbangan seperti itu (MK memerintahkan KPU menolak calon anggota DPD berlatar belakang fungsionaris partai) tidak perlu dipatuhi oleh KPU,” ujar Yusril. (Gan)