Lebih Inovatif, Eko Jatmiko Bangga jadi Bagian Program Jateng PINTAR

0

JAKARTA (Suara Karya): Kepala Sekolah (Kepsek) SD Negeri 1 Bringkeng, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Eko Jatmiko mengaku bangga menjadi bagian dari Program Jateng PINTAR.

Program yang dikembangkan bersama Tanoto Foundation dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah itu diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Banyak pengalaman baru saya dapatkan selama mengikuti Program PINTAR. Syaratnya mudah, kita hanya perlu membuka diri untuk mailu terus belajar,” kata Eko Jatmiko dalam sebuah kesempatan di Cilacap, belum lama ini.

Menurut Eko, perubahan itu terlihat nyata saat pembelajaran. Pemilik dua gelar kesarjanaan itu sebelumnya kurang melibatkan peran anak dalam proses pembelajaran, kini siswa dijadikan sebagai pusat pembelajaran, kegiatan presentasi dan eksperimen.

“Tanoto mengajarkan kami untuk menghidupkan suasana kelas dengan metode MIKIR, yaitu akronim dari Mengalami dan mengamati, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi. Saat ‘mengalami dan mengamati, banyak indera yang digunakan sehingga pemahaman mengenai suatu konsep menjadi lebih mantap,” katanya.

Eko mengungkapkan, menjadi guru di era digital dirasakan lebih berat. Karena guru dihadapkan pada kemajuan teknologi dan kebebasan berekspresi. Sehingga guru harus mampu mengawal anak-anak dalam memaksimalkan pergaulan dan kemampuan akademik.

“Anak saat ini tidak terbiasa membaca buku tanpa diperintah guru. Jika tidak dilakukan perubahan, maka kurikulum sebagus apapun tak akan mampu menciptakan generasi yang diharapkan orangtua dan masyarakat,” tuturnya.

Untuk itu, Eko bersama rekan-rekan guru mengadopsi praktik baik yang diajarkan Tanoto Foundation dari pengalaman sekolah lain di berbagai daerah. Praktik baik itu meliputi pembuatan kantin kejujuran, pembiasaan sholat tepat waktu, dan pembacaan dongeng pagi.

Guna meningkatkan kemampuan literasi, Eko memilih program Koin Literasi. Program itu berupa gotong royong anak dengan mengumpulkan uang seikhlasnya setiap minggu yang akan digunakan untuk membeli buku.

“Sekolah juga bekerja sama dengan penerbit agar dapat buku-buku dengan harga lebih murah. Kami juga menggelar kegiatan mendongeng dengan harapan dapat meningkatkan minat baca dan menanamkan karakter baik pada anak,” Eko Jatmino menandaskan.

Peraih dua gelar sarjana dari dua tempat yaitu S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Terbuka dan S1 Teknik Komputer, Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer (AMIKOM) Yogyakarta itu memiliki metode unik dalam membantu pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Dalam kesempatan terpisah, Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyatakan, pentingnya guru untuk selalu berinovasi dan melakukan terobosan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Program Jateng PINTAR mendukung para guru untuk berkreasi menciptakan praktik baik pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan, khususnya di masa pandemi,” ucap Ganjar.

Praktik baik pembelajaran kemudian didiseminasikan kepada rekan-rekan guru di sekolah lain melalui berbagai platform seperti sosial media dan surat kabar, sehingga para guru saling menginspirasi untuk mempercepat peningkatan kualitas pendidikan.

Ganjar menilai, program Jateng PINTAR yang menjadi bagian dari Program PINTAR Tanoto Foundation selaras dengan tujuan Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Sementara itu Direktur Program Pendidikan Dasar Tanoto Foundation, Ari Widowati menuturkan, pelatihan yang dilakukan Tanoto Foundation telah menghasilkan kepala sekolah dan guru unggul atau fasilitator.

“Mereka akan memberi banyak warna dalam kemajuan pendidikan di jantung Pulau Jawa,” kata Ari.

Ditambahkan, para fasilitator menjadikan kegiatan mendidik anak tidak hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga pengabdian untuk membawa perubahan.

“Semangat itu akan melahirkan komitmen kuat untuk membangun lingkungan belajar yang sehat,
berorientasi pada siswa agar menjadi individu yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, berkebhinekaan, dan berakhlak. Keterbatasan tidak mengurangi kreativitas para fasilitator dalam menciptakan pembelajaran aktif di masa pandemi,” kata Ari Widowati menandaskan. (Tri Wahyuni)