Lelang Beras, Bulog Tunggu Kepastian Uang Pengganti Pemerintah

0

JAKARTA (Suara Karya): Perum Bulog menunggu kepastian uang pengganti dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk segera melakukan pelelangan 20 ribu ton beras yang mengalami penurunan mutu. Demikian dikatakan Dirut Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) kepada wartawan di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Dikatakan Buwas, kebijakan melelang beras ini tentunya sudah melalui pemeriksaan laboratorium yang direkomendasi Badan Ketahanan Pangan Kementan dan BPOM.

“Meski demikian beras tersebut masih memiliki manfaat dengan melakukan pengolahan, penukaran, penjualan dibawah HET, serta dihibahkan untuk bantuan kemanusiaan. Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pertanian nomor 38 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah,” kata Buwas.

Buwas menegaskan, penyerapan gabah dan beras yang dilakukan BUlog adalah dalam rangka penugasan pemerintah, maka sesuai UU No.19 Tahun 2003 tentang BUMN, apabila ada potensi kerugian atas penugasan akan ada kompensasi.

“Jadi BUlog tidak pernah minta-minta ganti rugi. Ini dilakukan hanya berdasarkan regulasi saja,” katanya.

Dia juga membantah, tudingan penurunan mutu beras terjadi karena buruknya kondisi gudang Bulog. Menurutnya, beras yang masuk gudang Bulog telah melalui proses pemeriksaan kualitas oleh surveyor independen, dan perawatan kualitas dalam gudang sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku sehingga beras selalu dalam kondisi segar dan baik.

“Sy tunggu keputusan uang penggati dari pemerintah. Jika kepastian itu sdh turun, maka beras segera di lelang,” ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaludin Iqbal mengatakan penurunan mutu beras akan terlihat oleh kasat mata, seperti berdebu, terjadi perubahan warna, dan bau.

Setelah melalui uji laboratorium, akan diketahui berapa banyak beras yang masih layak konsumsi dan berapa banyak beras yang bisa dijadikan pakan ternak atau bahan pembuat ethanol.

“Bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) kami akan menghitung ulang semuanya, kata Iqbal.

Namun demikian, Iqbal mengatakan kemungkinan rata-rata penurunan harga mencapai 5-10 persen dari harga beras normal.

“Jadi jika harga beras kualitas baik Rp 10.000/Kg, maka dengan adanya penurunan mutu harga itu mengalami penurunan 5-10 persen,” ujarnya. (Bayu)