Lewat Jalur ASN, Ilmuwan Diaspora Didorong Pulang ke Tanah Air

0

JAKARTA (Suara Karya): Guna mendorong ilmuwan diaspora kembali ke Tanah Air, pemerintah akan buka jalur khusus penerimaan pegawai aparatur sipil negara (ASN). Diharapkan mereka bisa menjadi motor penggerak dalam kemajuan Indonesia.

“Soal jalur khusus untuk ilmuwan diaspora ini tengah dibahas dengan Menpan-RB. Semoga ada kabar baik,” kata Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID), Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Minggu (12/8).

Ali Ghufron menjelaskan, pemanggilan pulang para ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri merujuk pada pengalaman Korea, China dan India. Ketiga negara tersebut melibatkan para ilmuwan diaspora dalam pembangunan negaranya.

“Saya dapat banyak pertanyaan dari ilmuwan diaspora, apakah keahlian mereka di luar negeri akan dihargai jika pulang ke Indonesia. Ini yang tengah kami bahas dengan Menpan-RB, Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas,” tuturnya.

Menurut mantan Menteri Kesehatan itu, upaya alternatif dilakukan lewat jalur ASN. Kemungkinan, penerimaan para ahli itu disesuaikan dengan kebutuhan tenaga ahli di Indonesia.

“Program ini masih kita bahas terus, agar keberadaan para ilmuwan itu tidak sia-sia. Ada pekerjaan yang bisa mereka lakukan jika pulang,” ucapnya menandaskan.

Ali Ghufron menambahkan, tahun ini pelaksanaan simposium cendekia kelas dunia yang digelar pada 12-18 Agustus diikuti 48 ilmuwan diaspora Indonesia yang tinggal di 11 negara. Ke-11 negara itu adalah Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Australia, Inggris, Swedia, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada.

“Selama sepekan, para ilmuwan diaspora wajib berbagi ilmu dan pengalaman, bersinergi, serta berkolaborasi untuk menghasilkan penelitian dan publikasi ilmiah bersama ilmuwan dalam negeri. Berkat jejaring yang dimiliki, para ilmuwan diaspora diminta membuat short course di luar negeri,” ujar Ali Ghufron.

Ditegaskan, cendekia kelas dunia tak sekadar program pengembangan ilmu, melainkan membangun jejaring dengan ilmuwan Indonesia. Sehingga tercipta kesempatan bagi ilmuwan dalam negeri untuk melakukan penelitian dan publikasi bersama ilmuwan luar negeri.

“Ada 55 perguruan tinggi baik negeri dan swasta yang akan bergabung sebagai mitra riset. Hal ini menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan itu justru merekatkan, bukan malah menyekatkan,” ucapnya.

Ali Ghufron menjelaskan, para ilmuwan diaspora yang hadir telah diseleksi secara ketat, dengan melibatkan peran Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4).

Kegiatan simposium cendekia kelas dunia mendapat antusiasme tinggi dari para ilmuwan diaspora. Tercatat, sejak dibuka pendaftarannya pada Juni silam, ada 120 ilmuwan diaspora mendaftar program tersebut. Setelah diseleksi, akhirnya terpilih 48 ilmuwan diaspora. (Tri Wahyuni)