Lewat Manasiku, Mahasiswa UNJ Berikan Bimbingan Calon Haji di Masa Pandemi Covid – 19

0

JAKARTA (Suara Karya) : Mendapat kepercayaan Kemendikbuddikti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) meluncurkan program “Bimbingan Manasik” pada calon jamaah haji via online dimasa pandemi covid – 19.

“Belajar manasik via online sangat besar manfaatnya dimasa pandemi covid – 19. Selain membantu masyarakat, juga berhubungan erat dengan program pemerintah dalam pengentasan wabah corona yang kini sedang melanda di Tanah Air,”jelas Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UNJ, Dr. Abdul Sukur, S.Pd., M.Si. Sabtu (28/8/2021).

Abdul Sukur melanjutkan, program Manasiku yang dirintis mahasiswa UNJ itu besar pahalanya dalam memberikan pengetahuan tentang ibadah haji pada masyarakat. “Dari situlah saya dan Rektor UNJ Prof.Dr. Komarudin, M.Si. serta Dosen pembimbing memberikan dukungan. Dengan harapan program tersebut berjalan lancar,”katanya.

Sedang Dosen Pembimbing Antari Wijayanti, M.Pd. memaparkan,

Wakil Rektor III melanjutkan, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) adalah suatu wadah yang dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Semua itu dalam memfasilitasi potensi yang dimiliki para mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi yang telah dipelajarinya di perkuliahan kepada masyarakat luas.

Pada kegiatan ini mahasiswa diberikan pendanaan untuk merealisasikan gagasannya diberbagai bidang. Adapun bidang yang ada pada kegiatan ini yaitu PKM Riset, PKM Kewirausahaan,PKM Karsa Cipta, PKM Pengabdian Masyarakat, PKM Penerapat IPTEK, PKM Artikel Ilmiah, PKM Gagasan Tertulis, PKM Gagasan Futuristik Konstruktif, dan PKM Karya Inovatif.

Berdasarkan surat no. 1949/E2/KM.05.01/2021 yang dikeluarkan oleh kemendikbuddikti perihal pendanaan PKM, terdapat 6 tim PKM dari Universitas Negeri Jakarta yang lolos didanai.

Sedang Dosen Pembimbing Antari Wijayanti, M.Pd. memaparkan,
bidang kewirausahaan yang lolos adalah tim Manasikku yang diketuai Tia Wahyuningsih. Tim Manasikku sendiri terdiri atas lima mahasiswa Universitas Negeri Jakarta yaitu Tia Wahyuningsih (FMIPA 2020) selaku CEO, Komala (FIP 2018) COO, Rahma Rosaliana Saraswati (FMIPA 2017) CFO, Ulfhatun Widiastuti (FIP 2018) CTO, dan M Rudyansyah (FT 2018) CMO.

Kelima mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta itu katanya, mengembangkan kewirausahaan berupa aplikasi manasik haji berbasis virtual reality bernama Manasikku.

Latar belakang kelima mahasiswa tersebut mengembangkan kewirausahaan karena berhaji merupakan salah satu rukun Islam yang kelima dan hukumnya wajib bagi penganut agama Islam yang berkesanggupan.

Manasik haji adalah latihan tata cara ibadah haji yang memiliki tujuan agar para calon haji tidak kebingungan dalam melakukan berbagai prosesi ibadah haji di tanah suci. Namun, meskipun hal ini sudah dilakukan oleh para calon haji di tanah air, kenyataannnya sesampainya di tanah suci masih banyak yang kebingungan dalam hal pelaksanaan
maupun tata cara yang berkaitan dengan ibadah haji (Ridarineni, 2014).

Saat ini, penyelenggaraan manasik haji tidak hanya dilakukan oleh calon jamaah yang akan berangkat ke tanah suci, namun juga dilakukan anak usia dini melalui kegiatan manasik haji anak TK, PAUD, RA maupun SD (Kemenagbateng, 2018). Kegiatan manasik cilik ini sejalan dengan upaya untuk meningkatkan nilai-nilai luhur ajaran agama pada anak sehingga dapat menjadi bekal untuk kehidupan keagamaan anak dimasa yang datang (Kemenag, 2019).

Di sisi lain, akibat dari pandemi covid 19 proses pembelajaran di sekolah harus dilakukan secara daring.
Teknologi virtual reality tentang tatacara pelaksanaan haji dan umroh telah dikembangkan oleh sebuah perusahaan teknologi asal Pakistan tahun 2019. Teknologi digital ini telah memfasilitasi ribuan jamaah Pakistan untuk melakukan ibadah haji secara benar seperti melaksanakan haji sesungguhnya melalui teknologi virtual reality (VR) (Huda, 2019).

Hasil dari sistem ini memiliki kelebihan dalam menampilkan interaksi langsung dengan prosesi haji maupun umrah yang disimulasikan oleh komputer. Namun disayangkan, produk VR tersebut sangat mahal untuk dijangkau individu karena harganya yang berkisar lima belas juta untuk satu perangkat simulasi.

Manasikku dapat diakses pelanggan melalui google playstore. Diharapkan selain memperoleh profit yang besar, pengembangan kewirausahaan ini dapat membantu proses pembelajaran manasik haji dan juga untuk memudahkan calon haji dalam melakukan proses pemahaman materi haji dengan menggunakan smartphone pribadi. Karena aplikasi ini akan membuat proses belajar cara melaksanakan haji, bukan sekadar teori saja. Tetapi menyuguhkan teori, praktek serta kondisi sebenarnya seperti berada langsung di Mekah.

Adapun Tia Wahyuningsih selaku CEO Manasikku menyatakan, bahwa pengembangan kewirausahaan ini tidak terlepas dukungan berbagai pihak.

“Tim Manasikku mengucapkan terima kasih khususnya kepada dosen pembimbing, Ibu Dwi Antari Wijayanti, M.Pd., dekanat Fakultas MIPA, dekanat Fakultas Ilmu Pendidikan, dekanat Fakultas Teknik, pihak rektorat Universitas Negeri Jakarta, dan juga Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi,”tambah Tia lagi. (Warso)