Lewat Program Magang, Sompo Ajak Mahasiswa Peduli Linkungan

0

JAKARTA (Suara Karya): Setelah 20 tahun sukses mendorong anak-anak muda di Jepang peduli terhadap isu lingkungan, Sompo Environment Foundation (EF) terus merangkul lebih banyak generasi muda Indonesia dalam program ‘NGO Learning Internship’.

“Lewat program magang ini, kami ingin mengajak mahasiswa Indonesia untuk peduli terhadap masalah lingkungan,” kata Direktur Eksekutif Sompo EF, Yoshikazu Nishiwaki dalam acara pelepasan 20 mahasiswa peserta magang angkatan ke-3 secara virtual, Rabu (10/2/21).

Nishiwaki menjelaskan, program magang Sompo EF dibuat untuk membantu mahasiswa Indonesia memperdalam pengetahuan mereka tentang masalah lingkungan, termasuk perubahan iklim dan konservasi hutan. Selain memperluas wawasan dan kesadaran mereka tentang pekerjaan LSM lingkungan.

“Program magang Sompo EF yang dijalankan sejak 20 tahun lalu di Jepang telah menghasilkan lebih dari seribu alumni. Di Indonesia sendiri, Sompo EF baru memasuki tahun ke-3 tahun dengan alumni sebanyak 40 orang,” ujarnya.

Pendaftar program magang Sompo EF tahun ini berjumlah 293 mahasiswa. Dari jumlah itu, terpilih 20 mahasiswa dari kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

“Mereka akan disebar di 7 yayasan lingkungan di Jabodetabek yakni Benua Lestari Indonesia, Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF), Burung Indonesia, Conservation International Indonesia, DeTara Foundation, InSWA dan Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP),” tuturnya.

Nishiwaki mengatakan, meski ada kebijakan pembatasan sosial karena pandemi covid-19, program magang Sompo EF tetap dilaksanakan. Sehingga mahasiswa dapat berkegiatan selama pandemi. Upaya yang dilakukan adalah membuat program kerja kedepan. Setiap rapat kegiatan dilakukan secara daring.

Ditambahkan, Sompo EF akan memberi uang saku kepada mahasiswa magang Rp100 per hari sebagai kompensasi waktu dan tenaga selama magang. Program akan dijalankan bersama kantor Forum Pendidikan Lingkungan Hidup Jepang (Japan Environmental Education Forum) di Indonesia.

Menurut Nishiwaki, isu lingkungan saat ini mendapat perhatian banyak pihak. Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam beberapa tahun terakhir berdampak terhadap lingkungan, seperti penggundulan hutan, tanah longsor hingga masalah dan limbah.

“Keterlibatan mahasiswa dalam program lingkungan menjadi penting. Karena mereka adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Kepedulian terhadap lingkungan akan menimbulkan kesadaran kolektif untuk lingkungan yang lebih baik,” katanya menandaskan.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Kemitraan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jo Kumala Dewi memberi apresiasi kepada penyelenggara dan mitra yang telah menginisiasi program pemberdayaan untuk generasi muda sebagai agen perubahan.

“Program ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial dari mitra kerja Kementerian LHK yang menunjukkan kepedulian dan komitmen tinggi dalam pengarusutamaan isu lingkungan kepada generasi muda,” katanya.

Sementara itu, peserta magang dari IPB Shabrina Agustin menyatakan dia senang terpilih dalam program Sompo EF. Katanya, program tersebut dapat memperluas perspektifnya terhadap berbagai isu sosial dan ekonomi yang terjadi saat ini, sebagai bekal di masa depan. Shabrina akan magang di JKPP.

Direktur Umum Japan Environmental Education Forum Indonesia, Makoto Yata, mengatakan pihaknya akan mendampingi para peserta dan menjalankan program ini di Indonesia selama 8 bulan mulai Februari hingga September 2021.

Ditambahkan, para pemagang akan mendapat uang saku Rp100 ribu per hari untuk transportasi dan makan. Program akan dijalankan maksimum 75 hari. Peserta juga diwajibkan mengikuti pertemuan bulanan dan mengirimkan laporan bulanan ke Sompo EF.

Sebelum pandemi, kata Yata, para mahasiswa diajak berpartisipasi dalam Work Camp untuk merasakan kegiatan perlindungan lingkungan yang sebenarnya. Di antaranya ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan menghadiri seminar jurnalistik lingkungan yang diadakan Kementerian LHK.

“Kini di masa pandemi Covid-19 ini, pertemuan dilakukan secara daring dan tatap muka dengan menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan,” kata Yata menandaskan. (Tri Wahyuni)