Lewat Umbi Porang, SMK Model PGRI 1 Mejayan Siap Masuki Pasar Ekspor!

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Model PGRI 1 Mejayan, Jawa Timur tengah mengembangkan umbi porang menjadi bahan pangan olahan bernilai ekonomi tinggi. Apalagi bahan pangan tersebut memiliki peluang besar untuk ekspor.

“Umbi porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena peluang ekspornya cukup besar,” kata Kepala Sekolah SMK Model PGRI 1 Mejayan, Sampun Hadam dalam keterangan pers, Rabu (5/5/2021).

Sebagai informasi, umbi porang atau dikenal dengan sebutan iles-iles mudah ditemui di hutan, karena tumbuhan tersebut tumbuh secara liar. Umbi porang mengandung glucomannan berbentuk tepung yang dimanfaatkan sebagai serat alami.

“Glucomannan adalah serat alami yang larut dalam air. Bahan tersebut digunakan sebagai zat aditif untuk makanan, karena sifatnya emulsifier dan mengental. Bahkan, porang dapat digunakan untuk bahan lem ramah lingkungan dan salah satu komponen pesawat terbang.

Sampun mengutip data Badan Karantina Pertanian tahun 2018 yang menyebutkan, ekspor porang pada masa itu mencapai 254 ton, dengan nilai mencapai Rp11,31 miliar. Sejumlah negara sangat meminati porang, seperti Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia, dan negara lainnya.

Dalam pengembangan Porang nantinya, Sampun menambahkan, pihaknya akan mengajak pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bergerak di bisnis porang.

“Ketika nanti muncul beragam lapak makanan olahan porang, kita akan dikembangkan lagi menjadi rumah produksi. Produksi dikembangkan SMK, tapi bahan baku dari petani,” ujarnya.

Menurut Sampun, bahan baku porang mentah akan diolah di rumah produksi. Baru setelah itu hasilnya diserahkan kepada petani, untuk mendorong tumbuhnya pelaku UMKM baru khusus produk porang tersebut.

Sampun menegaskan, petani sebagai pihak yang menanam, sedangkan siswa SMK Model PGRI I Mejayan akan mengolah porang. “UMKM yang kita kembangkan ini semoga bisa menarik milenial untuk terlibat dalam bisnis ini. Rumah produksi akan mengemas produk secara bagus dengan menggunakan standar ekspor,” katanya.

Menurut Sampun, tanaman porang sebelum ini tidak menjadi pilihan bagi petani untuk dibudidayakan. Petani mulai melirik umbi tanaman dengan nama latin Amorphophallus muelleri itu, saat dicari banyak orang karena bernilai ekonomi yang cukup tinggi.

“Kami mengajak para siswa untuk mengolah umbi porang menjadi berbagai macam produk, mulai dari produk seperti bakso, tahu dan lain sebagainya,” katanya.

Sampun meyakini peluang produk berbahan baku porang itu memiliki potensi ekspor. Tiongkok dan Jepang merupakan dua negara yang berpotensi menjadi target pasar mereka.

“Saat ini, hasil olahan porang baru berupa chip kering dan makanan. Makanan itu dipersiapkan untuk ekspor dalam bentuk nabati yaitu bahan untuk membuat bakso atau bahan pengganti daging hewan (daging nabati),” ucap Sampun.

Upaya yang dilakukan SMK Model 1 PGRI Mejayan mendapat apresiasi dari Dirjen Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Wikan Sakarinto. Katanya, kreativitas diharapkan terus berkembang di kalangan siswa-siswi SMK karena didukung kurikulum baru.

“Kurikulum baru untuk SMK ini lebih menekankan pada aspek terapan dan pembelajaran berbasis penelitian atau proyek,” kata Wikan seraya menambahkan bahwa kreativitas adalah kunci penting menuju kesuksesan berwirausaha.

Hal senada dikemukakan Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Unifah Rosyidi. Ia sangat mendukung SMK dalam mengembangkan produk bernilai ekonomis, selain juga membangun kemandirian dan inovasi bagi siswa-siswi di SMK.

Ia mencontohkan keberhasilan Jepang dalam mengembangkan beras shirataki yang bagus untuk diet. Tingginya permintaan, membuat harga beras shirataki mencapai Rp209 ribu per kilo.

“Jika siswa SMK kita mampu mengembangkan beras shirataki untuk pasar dalam negeri, hasilnya akan luar biasa. Masyarakat yang ingin makan beras tersebut juga terbantu, karena sudah bisa diproduksi di dalam negeri,” ucap Unifah menandaskan. (Tri Wahyuni)