Lihat Implementasi Kurikulum Merdeka, Dirjen Vokasi Kunjungi SMK di Bekasi

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) memastikan siswa aktif mengikuti pembelajaran melalui Kurikulum Merdeka.

Hal itu dikemukakan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek, Kiki Yuliati saat berdiskusi dengan siswa,
guru dan tenaga kependidikan (GTK) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Bekasi dan Sekolah Dasar (SD) Negeri V Bintara, Kota Bekasi.

Kiki mengajak selurug pemangku kepentingan pendidikan di Kota Bekasi untuk menyukseskan implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum tersebut menyiapkan siswa menghadapi perubahan positif dan negatif di dunia pendidikan lewar struktur kurikulum yang lebih sederhana, relevan dan interaktif.

“Khususnya siswa kelas X yang memakai Kurikulum Merdeka. Sekolah bisa mengenali minat, bakat, kekuatan ataupun kelemahan yang dimiliki siswa. Berdiskusi dengan guru dalam mengikuti pelajaran untuk memperkuat potensi di masa depan,” ujarnya.

Kurikulum Merdeka mendorong siswa lebih aktif dalam memilih pelajaran yang diminati. Selain juga mendorong kepala sekolah dan guru membentuk komunitas belajar agar bisa saling berbagi dengan sesama GTK guna mencari gagasan, ide, atau solusi atas masalah pembelajaran yang dihadapi saat mendampingi siswa dalam implementasi Kurikulum Merdeka.

“Dalam Kurikulum Merdeka tidak ada program peminatan, namun khusus di SMK akan ada penyesuaian konsentrasi keahlian,” tuturnya.

Kiki mendorong guru yang hadir dapat lebih aktif menggunakan platform Merdeka Mengajar untuk memperkaya wawasan dan pemahaman dalam proses belajar mengajar.

Hadir dalam kesempatan itu, Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono. Ia memberi apresiasi kepada Kemdikbudristek dalam pengembangan potensi dan motivasi siswa lewat Kurikulum Merdeka.

“Menjadi tugas Pemerintah Daerah dalam memberi ruang kepastian dan jaminan pelaksanaan pembelajaran. Semoga lulusan SMK, tidak hanya bangga hanya menjadi pegawai, tapi juga memiliki semangat wirausaha,” katanya.

Dalam sesi diskusi, siswa kelas XII Teknik Kendaraan Ringan A, Marva Thoriq Azizi menyoroti potensi yang dapat terjadi dalam implementasi Kurikulum Merdeka. “Perlu dipikirkan juga potensi kekurangan daei implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah,” ucapMarva yang juga Ketua OSIS SMKN 1 Kota Bekasi.

Dirjen Pendidikan Vokasi Kemdikbudristek Kiki Yuliati mengapresiasi Marva yang kritis dan menaruh perhatian besar atas implementasi Kurikulum Merdeka. Mengatasi potensi kelemahan disebut sebagai mitigasi risiko.

“Implementasi tak akan berlangsung dengan baik jika siswa hanya pasif/tidak aktif dan guru serta kepala sekolahnya tidak mau berubah. Pola pemikiran kuno menganggap dirinya sebagai sumber belajar dan enggan mempelajari hal yang baru,” ucap Kiki.

Guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sosial (IPAS) kelas X, Desri Suryani mengatakan sebagai guru siap belajar untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka sehingga siswa dapat belajar lebih menyenangkan, kreatif, dan mandiri.

Kiki menjelaskan, inti dari Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 adalah sama, namun filosofinya berbeda. “Perbedaan mendasar pada Kurikulum 2013 adalah materi kurikulum harus diajarkan kepada siswa, tetapi di Kurikulum Merdeka, materi kurikulum dapat dipilih oleh siswa,” ujarnya.

Jadi, pada Kurikulum Merdeka guru bekerja sama dengan murid dalam mencapai kesuksesan capaian pembelajaran.

Seusai audiensi dan diskusi, Dirjen Kiki berkesempatan melihat proses pembelajaran dan aktifitas siswa di SMKN 1, yang dilanjutkan dengan kunjungan ke SDN V Bintara, Kota Bekasi.

Ia kagum saat melihat aktifitas siswa kelas IV SD yang melakukan pembelajaran tentang Pancasila. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok mandiri, berpikir kritis, gotong royong, dan kreatif.

Mengakhiri rangkaian kegiatan, Kiki menekankan Pemantauan Implementasi Kurikulum Merdeka yang dilaksanakan serempak di 167 kabupaten/kota di Indonesia merupakan komitmen kuat dari Kemdikbudristek dalam menciptakan suasana pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

Selain menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul sejalan dengan harapan menciptakan profil Pelajar Pancasila,” ucap Kiki menandaskan. (Tri Wahyuni)