LIPI dan Sinari Terima PYC Energy Award 2019

0
(suarakarya.co.id/Humas Purnomo Yusgiantoro Center)

JAKARTA ( Suara Karya):Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) menganugerahkan PYC Energy Award 2019 kepada dua organisasi yang memberikan dampak sosial dengan kiprahnya di sektor energi. Tahun ini, PYC Energy Award diberikan kepada Sinari  Energi dan Loka Penelitian Teknologi Baru (LPTB) LIPI.

Penghargaan untuk LPTB LIPI diberikan, atas perannya dalam pengembangan masyarakat melalui inovasi di sektor energi. Sedangkan untuk Sinari Energi, berfokus pada penyediaan pembangkit listrik tenaga surya dan penyimpanan energi kepada masyarakat di pulau-pulau terpencil.

(suarakarya.co.id/Humas Purnomo Yusgiantoro Center)

Ketua PYC, Filda Citra Yusgiantoro, mengatakan LPTB LIPI dalam penelitiannya mengolah limbah pabrik tahu menjadi biogas yang dialirkan untuk warga-warga sekitar.

“Pemberian PYC Energy Award 2019 ini, diharapkan mampu menumbuhkan pengembangan teknologi dan bisnis yang memberikan dampak pada lingkungan dan sosial,” kata Filda di Jakarta, Rabu (13/11/2019).

Dalam sambutannya, Filda menyampaikan perhatian terhadap penyediaan akses energi yang terjangkau dan bersih, seperti tercantum dalam SDG7. Salah satu caranya adalah dengan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dan energi bersih kepada masyarakat luas.

Dia berharap, konferensi ini dapat memberikan perspektif lebih luas terhadap masalah pengembangan EBT dan energi bersih di Indonesia dari sisi teknologi, ekonomi, maupun kebijakan. Pada tahun ini, konferensi ini dapat memikat hingga lebih dari 500 orang untuk hadir dalam acara tersebut, baik dari sisi akademisi maupun profesional.

Untuk diketahui, acara PYC International Energy Conference 2019 dibuka oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr. Montty Girianna, dan Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Ir. F.X. Sutijastoto, M.A.
Dalam sambutannya, Dr. Montty Girianna menyampaikan pengembangan EBT menjadi tujuan pemerintah saat ini.
Dia berharap pengembangan EBT dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

(suarakarya.co.id/Humas Purnomo Yusgiantoro Center)

Sementara itu, F.X. Sutijastoto mengungkapkan menurut laporan IEA bahan bakar fosil masih mendominasi hingga 2040.  Energi yang lebih ramah lingkungan seperti DME, gasifikasi batu bara, dan likufaksi batu bara perlu dikembangkan untuk menghadapi transisi energi.

Menurut Sutijastoto, kebijakan pemerintah khususnya Migas dan batu bara perlu untuk dikaji ulang, sebagai contoh sistem zonasi yang diterapkan dalam DMO batu bara. Pengembangan energi terbrarukan juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, membantu meningkatkan stabilitas ekonomi, dan mengurangi resiko dari fluktuasi harga bahan bakar, meningkatkan kehidupan sosial, dan memperbaiki lingkungan.

Hal ini selaras dengan komitmen Indonesia dalam Paris Agreement. Sutijastoto menegaskan komitmen pemerintah dalam mencapai SDG7 yang selaras dengan Kebijakan Energi Nasional.

“EBT akan dapat tumbuh jika didukung oleh inovasi teknologi, investasi, dan kebijakan yang mendukung. Konferensi ini dapat menjadi katalis untuk menyelesaikan tantangan-tantangWan pengembangan EBT terutama dalam koridor pembangunan berkelanjutan,” kata Sutijastoto. (Andara Yuni)