Literasi Digital di Sektor Pendidikan Sasar Kaum Muda

0

JAKARTA (Suara Karya): Literasi digital yang digagas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) kini menyasar sektor pendidikan.

Berkolaborasi dengan Pandu Digital san Jawara Internet Sehat ICT Watch Indonesia digelar webinar untuk menguatkan nilai kompetensi digital pemuda Indonesia berdasarkan 4 pilar literasi digital.

Kegiatan yang mengusung tema ‘Pemuda Indonesia Makin Cakap Digital’ itu digelar secara daring melalui aplikasi ‘zoom meeting’ dan kanal Youtube milik Pandu Digital Indonesia.

Webinar yang menyasar kaum muda itu menjadi penting karena hasil Survei Indeks Literasi Digital Nasional oleh Kemkominfo dan Katadata Insight Center pada 2021 menunjukkan skor atau tingkat literasi digital masyarakat Indonesia sebesar 3.49 dari 5.00 dan masuk kategori sedang.

Koordinator Tim Literasi Digital Sektor Pendidikan Kemkominfo, Bambang Tri Santoso dalam sambutannya mengatakan, literasi digital di lingkungan pendidikan menjadi salah satu target sasaran Kemkominfo dalam mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan kecakapan digital para pemuda Indonesia,” ujar Bambang.

Kemkominfo terus berupaya dalam menyatukan Indonesia dengan memperluas akses internet dan pemanfaatan teknologi informasi, agar masyarakat Indonesia mendapat hak yang sama.

“Upaya itu dikemas melalui program literasi digital yang menjadi prioritas utama untuk menciptakan masyarakat yang #MakinCakapDigital,” kata Bambang.

Kegiatan dibagi dalam dua sesi yang mencakup 4 pilar Literasi Digital, yaitu Kecakapan Digital, Keamanan Digital, Budaya Digital dan Etika Digital.

Materi pertama tentang Rekam Jejak di Ruang Digital diberikan oleh Agus Indira dari Pandu Digital Madya Indonesia. Katanya, aktivitas dan interaksi yang dilakukan seseorang di ruang digital dapat menjadi bukti yang berpotensi untuk dicari, dicuri, dipublikasi dan diikuti oleh orang lain.

Karena itu, Agus mengingatkan pada kaum muda agar berhati-hati di media sosial. Ia memberi tips dalam menjaga rekam jejak digital, yaitu selalu unggah hal positif; cermat dan jeli menganalisis di aktivitas internet; berpikir sebelum mengunggah postingan; dan lakukan verifikasi dalam menerima dan menyebarkan informasi.

“Jejak digital itu akan selalu ada. Jika ingin membangun akun di media sosial, pastikan hal itu tidak merugikanmu di masa depan,” katanya.

Materi kecakapan digital disampaikan Jawara Internet Sehat Jabodetabek, Tiara Lestari. Katanya, digitalisasi membuka peluang yang sangat luas untuk menghasilkan produktivitas. Seperti munculnya beragam profesi dan usaha baru seperti content creator, software engineering, social media specialist, dan lain sebagainya.

“Manfaatkan kesempatan itu untuk mendapat sumber penghasilan. Kuncinya adalah kemauan untuk belajar,” ucap Tiara menegaskan.

Di era digital ini, lanjut Tiara, untuk menjadi orang yang produktif, dibutuhkan kemampuan untuk berpikir kritis, kreatif, komunikasi dan kolaborasi. “Harus bisa bedakan informasi yang benar dan salah, berpikir kreatif untuk membaca peluang, komunikasi yang efektif dan berkolaborasi untuk mengembangkan produktivitas,” ucapnya.

Materi ketiga disampaikan Wahyudi dari Pandu Digital Madya Indonesia. Ia membahas Etika Berinteraksi melalui Media Sosial di Ruang Digital.

“Etika di ruang digital adalah kemampuan mengembangkan tata kelola etika digital. Karena di ruang digital, kita berinteraksi dengan beragam manusia dengan macam-macam budaya.

“Di dalam ruang digital, usahakan tidak menggunakan huruf kapital dalam berinteraksi. Hargai hak cipta dan privasi orang lain, serta tidak menggunakan kata kasar,” katanya.

Materi terakhir disampaikan Rinda Cahyana, anggota Pandu Digital Madya Indonesia. Rinda menyampaikan pentingnya budaya digital yang harus dipahami yaitu internalisasi nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di ruang digital.

“Kita mampu berinteraksi dan berasimilasi dengan budaya luar tanpa meninggalkan identitas nasional di dalam jaringan digital. Nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai identitas nasional, harus tetap kita pegang,” ujarnya.

Kegiatan Literasi Digital Sektor Pendidikan merupakan satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Informatika. Program tersebut diharapkan memberi literasi digital kepada 50 juta orang Indonesia hingga tahun 2024. (Tri Wahyuni)