LLDikti wilayah III Ajak Masyarakat Jadikan PDDikti Sumber Infomasi

0

JAKARTA (Suara Karya): Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Paristiyanti Nurwardani mengajak masyarakat, perusahaan atau lembaga lainnya untuk menjadikan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) sebagai pusat informasi.

“Data yang disajikan PDDikti benar-benar akurat, sehingga masyarakat tak salah langkah dalam memilih perguruan tinggi,” kata perempuan yang akrab dipanggil Paris usai rapat dengan guru besar dari sejumlah kampus yang berada di Jakarta, Jumat (22/7/22).

Paris menyebut data tersebut tak hanya berguna bagi masyarakat, tetapi juga perguruan tinggi bersangkutan. Saat ini LLDikti Wilayah III bermitra dengan 297 perguruan tinggi swasta (PTS) dan 5 perguruan tinggi negeri (PTN) yang ada di DKI Jakarta.

“Di dunia pendidikan tinggi, data dan informasi merupakan hal yang sangat penting dan krusial. Data itu terkait aspek seperti akreditasi kampus, jumlah program studi, mahasiswa, dosen, hingga profil lulusan,” ujarnya.

Data tersebut, lanjut Paris, wajib dilaporkan ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) setiap satu semester, yang kemudian tersimpan dalam platform bernama PDDikti (https://pddikti.kemdikbud.go.id/).

“PDDikti ini juga merupakan jawaban atas keresahan masyarakat yang masih bingung mencari infomasi data perguruan tinggi yang akurat dan valid. Berkat teknologi yang makin canggih, maka semua informasi itu bisa diketahui dengan mudah. Tak perlu datang ke satu tempat, tapi cukup diakses secara daring,” tuturnya.

Ditambahkan, laman PDDikti memiliki sejumlah manfaat bagi masyarakat dan kampus, salah satunya pengecekan status maupun ijazah bagi lulusan perguruan tinggi.

“Perusahaan atau instansi pemerintah yang sedang rekrutmen pegawai baru juga bisa lihat status pendidikan pelamarnya lewat PPDikti tanpa harus kroscek ke perguruan tinggi bersangkutan. Begitu pun dengan lembaga pemberi beasiswa, data calon penerimanya bisa diakses melalui PPDikti,” tuturnya.

Paris menegaskan, mekanisme pencariannya sangat mudah. Cukup mengetik nama lengkap lulusan atau mahasiswa. Nanti akan ditampilkan informasi status mahasiswa tersebut, apakah aktif atau tidak aktif. Apakah sudah lulus, tidak lulus atau sedang cuti.

“Jika mahasiswa sudah lulus, maka informasi nomor ijazah pun akan muncul,” ucapnya.

Data-data yang dapat dilihat pada PDDikti, antara lain profil mahasiswa, seperti nama lengkap, Nomor Induk Mahasiswa (NIM), dan status kelulusan. Selain juga nama program studi, profil perguruan tinggi dan profil dosen.

Bagi perguruan tinggi sendiri, melaporkan data seorang mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikannya ke PDDikti adalah hal wajib. Dengan hal ini, masyarakat jadi mengetahui kualitas dari sebuah perguruan tinggi beserta lulusannya.

Selain itu, para lulusan perguruan tinggi maupun pencari kerja juga akan terhindar dari risiko kesulitan mengikuti seleksi CPNS, mendaftar menjadi calon pejabat pemerintah maupun daerah, juga berkarir di perusahaan.

Guna mendorong perguruan tinggi untuk selalu memperbaharui data kampusnya di PDDikti, Paris menambahkan, pihaknya selalu memberi penghargaan bagi perguruan tinggi yang pelaporan datanya paling rapi.

“Saat Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) pada April 2022 lalu, LLDikti wilayah III memberi penghargaan kepada kampus yang pelaporannya 100 persen dalam kurun waktu 5 tahun atau 10 semester,” katanya.

Hal senada dikemukakan Kepala Bagian Umum LLDikti Wilayah III, Noviyanto. Katanya, perguruan tinggi yang tidak melapor ke PDDikti akan rugi dalam banyak hal dan mahasiswanya akan kesulitan mendapat beasiswa.

“Padahal beasiswa adalah harapan bagi mereka yang memiliki masalah finasial agar bisa tetap lanjut kuliah. Jika mahasiswa tidak terdaftar di PDDikti, maka lembaga beasiswa akan kesulitan melakukan ‘track record’ data calon kandidatnya,” kata Noviyanto.

Ia menambahkan, selain mahasiswa, dosen juga akan dirugikan terutama pada pembayaran tunjangan kinerja dosen yang telah mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian masyarakat.

“Data tersebut harus dilaporkan sebagai beban kinerja dosen ke sistem yang terintegrasi dengan PDDikti maupun sistem informasi sumber daya lainnya bernama SISTER,” ucap Noviyanto menandaskan. (Tri Wahyuni)