LLDikti Wilayah III Dorong Kampus di DKI Terapkan PTM Terbatas

0

JAKARTA (Suara Karya): Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III mendorong perguruan tinggi di wilayah kerjanya untuk segera menggelar pembelajaran tatap muka. Hal itu demi mengejar ketertinggalan pembelajaran yang tidak optimal selama kuliah daring.

“Dalam Surat Edaran Plt Dirjen Diktiristek ditegaskan, pembelajaran pada semester gasal tahun ini dilakukan secara tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat,” kata Kepala LLDikti Wilayah III, Paristiyanti Nurwardani dalam pertemuan daring yang dihadiri 600 peserta dari pimpinan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, Jumat (21/1/22).

Narasumber kunci dalam pertemuan tersebut anggota Komisi X DPR RI, Putra Nababan.

Paris menjelaskan, PTM terbatas harus dilaksanakan di DKI Jakarta, karena pandemi covid-19 telah memberi dampak negatif bagi dunia pendidikan tinggi akibat terlalu lama belajar daring. Kondisi itu berpotensi terjadinya ‘learning loss’ yang semakin parah, jika tidak dilakukan intervensi.

“Soft skill mahasiswa menjadi tidak terasah, karena kompetensi sosial didapatkan dalam pembelajaran tatap muka di kampus. Komunikasi ‘face to face’ penting agar mahasiswa respek terhadap dosennya,” ucap Paris.

Dampak negatif lainnya adalah keberhasilan profil pelajar pancasila menjadi sulit diukur, begitu pun konsep gotong royong dan kebhinekaan dirasakan sulit diterapkan, jika mengandalkan belajar dari rumah.

“Dalam aspek beriman, berakhlak mulia, mungkin bisa dilakukan dengan orangtuanya, tetapi aspek itu baru teruji melalui interaksi dengan orang lain. Aspek kreatif, juga haruslah diselesaikan secara bersama. Maka keberadaan seorang teman menjadi sangat penting,” katanya.

Dari segi hard skills, Paris menambahkan, lingkungan perguruan tinggi memiliki berbagai fasilitas pembelajaran yang kolaboratif. Dengan demikian, learning outcome akan mudah dicapai jika mahasiswa belajar di kampus.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Putra Nababan mengingatkan PTM terbatas bagi perguruan tinggi di DKI Jakarta butuh kesadaran bersama untuk selalu mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan secara ketat. Kesadaran kolektif harus melekat bagi warga kampus saat PTM terbatas.

“Pelaksanaan PTM terbatas sudah dilakukan jenjang sekolah dasar dan menengah, kini saatnya perguruan tinggi. Jangan sampai kalah dengan jenjang persekolahan,” ucap Putra menegaskan.

Yang penting, menurut Putra Nababan, kesadaran harus dibangun bersama antara dosen, mahasiswa dan pengelola kampus agar selalu taat protokol kesehatan saat berada di dalam kampus,” kata Putra. (Tri Wahyuni)