LLDikti Wilayah III Luncurkan Program Talenta Digital plus Bela Negara

0

JAKARTA (Suara Karya): Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III meluncurkan Program Talenta Digital plus Bela Negara. Program tersebut melibatkan Ditjen Potensi Pertahanan, Kementerian Pertahanan dan sejumlah perguruan tinggi yang terkait.

“Bela negara disini bukan seperti latihan di militer, tetapi lebih ke pemanfaatan teknologi untuk bela negara,” kata Kepala LLDikti Wilayah III, Paristiyanti Nurwardani dalam acara bertajuk ‘Jakarta Hajatan’, di Jakarta, Rabu (22/6/22).

Kegiatan merupakan bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta ke-495. Ada 3 rangkaian nilai optimisme masyarakat, yang diharapkan selalu kompak dan maju dalam membangun kota Jakarta, yaitu Kolaborasi, Akselerasi serta Elevasi.

Disebutkan, perguruan tinggi yang akan terlibat dalam program Talenta Digital plus Bela Negara, antara lain UPN Veteran Jakarta, Universitas Bina Sarana Informatika, Universitas Pancasila, Universitas Gunadarma, dan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya.

Kolaborasi yang ingin dicapai dalam program itu, diantaranya, menentukan capaian pembelajaran dan pembuatan modul dari implementasi bela negara seperti ‘kompetensi computational logic’, ‘communication’, dan ‘cyber security’.

“Kami mendorong perguruan tinggi untuk terus menanamkan nilai-nilai bela negara di kalangan mahasiswa yang masuk generasi milenial. Karena masa depan Indonesia ada di genggaman mereka yang inovatif dan kreatif. Semuanya dimulai dari Jakarta untuk Indonesia,” ucap Paris.

Kegiatan yang dimulai Juni 2022 itu, lanjut Paris, menjadi penting karena saat ini era globalisasi yang erat kaitannya dengan teknologi digital dan sarat akan keterbukaan informasi. Belum lagi, kondisi ekonomi global, sosial, dan perubahan politik yang akan mempengaruhi Indonesia di masa depan.

“Melihat situasi ini, bonus demografi di Indonesia akan membawa kemajuan bila dimanfaatkan dengan baik, terutama dalam hal pendidikan,” ujarnya.

Proses transformasi yang sangat cepat ini, secara signifikan dunia kerja akan mengalami ketidakpastian. Banyak jenis pekerjaan, yang akan hilang dan lahir, seiring berkembangnya teknologi digital.

“Karena itu, talenta digital diperlukan agar SDM kita mampu bersaing secara mumpuni, tak hanya dalam negeri tetapi juga secara global,” ucap Paris.

Upaya lain yang dilakukan LLDikti Wilayah III untuk meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi adalah membuka 5 klinik, yaitu Klinik Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Klinik Jurnal, Klinik Mutu, Klinik Jabatan Akademik dan Sister, serta Klinik Mahasiswa.

“Lima klinik tersebut bisa dimanfaatkan 290 perguruan tinggi swasta di Jakarta, yang ingin meningkatkan diri. Dengan demikian, proses transformasi di perguruan tinggi swasta menjadi lebih terarah,” ucapnya.

Transformasi perguruan tinggi merujuk pada 8 indikator kinerja utama, yaitu lulusan mendapat pekerjaan layak, mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus, dosen berkegiatan di luar kampus, praktisi mengajar di dalam kampus, program studi berstandar internasional, kelas kolaboratif dan partisipatif, program studi kerja sama mitra kelas dunia, dan hasil kerja dosen digunakan masyarakat serta mendapat rekognisi internasional.

Hasilnya, Paris menyebut, per Juni 2022 tercatat ada 19 perguruan tinggi dengan akreditasi A/Unggul, 1.356 jumlah akreditasi program studi (prodi) dengan minimal B, sebanyak 18 ribu dosen memiliki jabatan fungsional, ada 409 profesor/guru besar, kepatuhan dalam pelaporan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) hingga 98 persen, ada 325 jurnal ilmiah, dan 4.651 mahasiswa berprestasi.

“Berbagai capaian itu adalab buah dari berbagai kegiatan MBKM seperti magang, asistensi mengajar, membangun desa, penelitian, proyek kemanusiaan, kewirausahaan, studi/proyek mandiri, serta pertukaran mahasiswa,” katanya.

Tentang program merger kampus-kampus yang kondisinya bak pepatah ‘hidup segan mati pun tak mau’, Paris mengatakan, jumlahnya ada sekitar 100 kampus dengan mahasiswa dibawah 500 orang dan 55 kampus dengan mahasiswa dibawah 100 orang.

“Mereka sudah kami undang untuk ikut program merger yang digagas Ditjen Diktiristek, Kemdikbudristek. Ada sekitar 15 kampus di DKI yang menyatakan siap merger,” tutur Paris seraya menyebut kebanyakan kampus tersebut berbentuk akademi dengan satu program studi di bidang kesehatan.

Paris mengakui, bukan perkara mudah mengajak PTS yang memiliki mahasiswa dibawah 100 orang untuk merger. Mereka masih belum paham, jika upaya merger itu bisa membuka peluang untuk tumbuh lebih baik. Selain itu, proses pengurusan merger dapat bantuan dari pemerintah.

“Jika sebelumnya hanya punya 1 prodi, jika merger dengan tiga kampus lainnya maka ada pilihan prodi lain. Jika mahasiswa bertambah, hal itu akan menarik perhatian calon mahasiswa,” kata Paris menandaskan. (Tri Wahyuni)