Suara Karya

Lukisan Batu Cadas Tua di Kalimantan Diajukan sebagai Warisan Dunia

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan mengajukan lukisan batu cadas usia ribuan tahun di Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur sebagai warisan budaya dunia ke Unesco.
“Temuan ini sangat bermakna. Karena, ribuan tahun lalu nenek moyang kita memiliki peradaban sangat tinggi,” kata Mendikbud Muhadjir Effendy dalam acara pemaparan hasil temuan oleh tim peneliti gabungan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Griffith University, Australia, di Jakarta, Kamis ( 8/11)

Muhadjir optimis hasil temuan terbaru itu akan mendapat apreasiasi dari masyarakat dunia. Karena penelitiannya tak saja berskala internasional, namun temuannya pun berusia sangat tua. “Tadi disebutkan batu cadas Kalimantan itu berusia 40 ribu tahun. Itu peradaban yang sangat tua,” ujarnya.

Ditanya upaya yang akan dilakukan, Muhadjir mengatakan, pihaknya akan menempuh sesuai prosedur. Pemerintah Indonesia sudah biasanya menangani pengajuan ke Unesco terkait warisan budaya dunia. “Apalagi dokumen yang dimiliki tim peneliti gabungan ini sudah begitu lengkap. Proses pengajuannya akan lebih mudah,” ujarnya.

Kepala Puslit Arkenas, I Made Geria menjelaskan, penemuan lukisan hewan abstrak yang menggunakan batu sebagai medium tertua di dunia. Temuan berupa gambar tapir, daun, tangan dan hewan abstrak merupakan bentuk karya seni cadas yang banyak berkembang di Eropa.

Menurut I Made Geria, lokasi penemuan gambar sangat sulit dijangkau di Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur. Selain tua, lukisan tersebut juga menjadi bukti keberadaan kebudayaan manusia sejak lama.

“Gambar ini merupakan salah satu inovasi penting dalam sejarah kebudayaan manusia yang berakar pada zaman es di Indonesia, saat masih menyatu dengan benua Asia,” ujarnya.

Max Aubert, peneliti dari Griffith University mengungkapkan, temuan lukisan itu bisa menjadi pembanding dengan gambar-gambar yang berusia lebih muda. Dari sana dapat diketahui jejak inovasi gambar yang sudah berkembang dari masa ke masa.

“Gambar tertua adalah gambar seekor hewan yang tidak terindentifikasi, kemungkinan spesies banteng liar yang hingga kini masih ditemukan si pedalaman hutan Kalimantan,” ujarnya.

Asisten peneliti, Adhi Agus Oktaviana mengatakan penemuan itu memberi kesan tradisi menggambar cadas di zaman es atau paleolitik muncul di Kalimantan. Temuan itu mengindikasikan asa perubahan besar pada budaya seni lukisan cadas Kalimantan sekitar 20 ribu tahun yang lalu.

Sebelumnya, Eropa telah lama diketahui sebagai pusat perkembangan gambar cadas. Namun Kalimantan menjadi pulau ketiga terbesar di Bumi yang letaknya paling ujung timur dari lempeng benua Eurasia yang terpisah dari Eropa di ujung barat sejauh 13 ribu kilometer.

“Di Indonesia juga ada Maros Pangkep namun tidak seperti ini gambarnya. Begitu juga yang berusia 39 ribu tahun, ada di Spanyol. Gambarnya berbeda,” ujarnya.

Kendati demikian, penelitian ini masih meninggalkan tanda tanya besar. Co-leader Pindi Setiawan spesialis gambar cadas ITB mengatakan belum diketahui siapa dan dengan cara apa pelukis ini melukiskan gambarnya.

“Siapa seniman pada zaman es di Kalimantan dan apa yang terjadi pada mereka merupakan sebuah misteri,” kata Pindi seraya menambahkan hasil penelitian itu telah dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Science pada Rabu (7/11). (Tri Wahyuni)

Related posts