Mahasiswa Diingatkan dalam Bermedsos agar Tak jadi Kendala Masuk Dunia Kerja

0
(Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Mahasiswa diingatkan kembali untuk berhati-hati saat ‘bermain’ di media sosial (medsos). Karena dunia usaha belakangan ini, mulai melirik medsos untuk menilai kepribadian calon karyawannya.

“Meski nilai akademik bagus, jika di medsos selalu marah-marah atau galau tidak jelas, jangan berharap bakal dipanggil lagi buat interview,” kata Dirjen Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Wikan Sakarinto saat memberi kuliah perdana Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti secara virtual, Kamis (1/10/20).

Wikan menegaskan, pihaknya tidak melarang mahasiswa untuk bermedsos, namun gunakan saluran komunikasi itu secara benar. Jika ingin protes atas ketidakadilan, misalkan, bisa dilakukan dengan cara yang bahasa santun. “Karakter seseorang yang sesungguhnya bisa dilihat medsosnya,” ucapnya.

Wikan meminta kepada mahasiswa untuk mengembangkan diri secara berimbang antara hardskills (kompetensi akademik) dan softskills seperti bagaimana berkomunikasi secara efektif, memimpin organisasi, berpikir kritis hingga bekerja secara tim. Kemampuan softskills itu akan memberi “nilai” jual bagi seorang lulusan.

“Jika ada 2 orang lulusan dengan nilai akademisnya sama, perusahaan akan memilih orang yang punya pengalaman di organisasi. Pengalaman berorganisasi akan memberi nilai tambah bagi lulusan,,” ucap Wikan mengistilahkan mahasiswa yang minim berorganisasi sebagai ‘kupu-kupu’ (kuliah pulang-kuliah pulang).

Karena itu, Wikan menegaskan, tidak ada satupun program studi yang suram, asalkan segala sesuatunya dilakukan dengan ‘passion’. Bahkan, masuk ke fakultas kedokteran UGM pun kalau tidak punya ‘passion’, maka masa depan bakal suram.

“Mahasiswa baru di perguruan tinggi vokasi tidak perlu merasa rendah diri, dibanding mereka yang masuk perguruan tinggi akademik. Yang penting adalah berani berinovasi dan tidak takut melakukan kesalahan,” ucapnya.

Ditambahkan, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pun bukan satu-satunya penentu kesuksesan mahasiswa, setelah lulus dari kuliah. Kompetensi yang utama adalah kompetensi dalam softskills.

“Meski IPK bukan penentu keberhasilan lulusan, tapi angka IPK yang terlalu kecil juta tidak bagus. Angka minimal yang dipertimbangkan di dunia usaha harus diatas 3 koma sekian. Nilai IPK dibawah 3, biasanya kurang dilirik HRD,” kata pria yang sebelumnya menjabat sebagai Dekan Sekolah Vokasi UGM tersebut.

Sementara itu, Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati mengatakan, mulai tahun akademik 2020/2021, pihaknya menerapkan kebijakan Kemdikbud yakni Kampus Merdeka. Untuk pembelajaran, mengutamakan teori lebih dulu baru kemudian praktik begitu kondisi pandemi covid-19 mulai melandai.

“Lewat kuliah umum ini, kami berharap wawasan maupun pengetahuan mahasiswa baru dapat bertambah. Mudah-mudahan kalian memahami setelah lulus akan kemana,” ujarnya.

Ketua Yayasan Trisakti, Bimo Prakoso pun berharap mahasiswa baru dapat beradaptasi dengan dunia perkuliahan dengan baik. Bimo berpesan agar mahasiswa menjauhi narkoba, tak berpolitik praktis serta mampu berkolaborasi dengan mahasiswa lain dalam melakukan inovasi. (Tri Wahyuni)