Mahasiswa STP Trisakti jadi Juara Asean Skill Competition di Thailand

0

JAKARTA (Suara Karya): Kebahagiaan tengah menyelimuti kampus Sekolah Tinggi pariwisata (STP) Trisakti. Mahasiswanya yang bernama Hanley Satya Nugraha berhasil menjadi juara pada kompetisi keahlian “Asean Skill Competition” (ASC) di Bangkok, Thailand pada awal September 2018 lalu.

“Hanley dapat medali perak untuk bidang restaurant service. Ini prestasi yang membanggakan,” kata Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati saat menyambut kepulangan Hanley di kampus STP Trisakti Bintaro Jakarta, Jumat (15/9).

Hanley merupakan satu dari 17 kontingen Indonesia dalam kompetisi yang diikuti 9 negara Asean. Dalam ajang tersebut, Indonesia berhasil meraih total 13 emas, 6 perak, 8 perunggu, dan 7 medali diploma.

“Senang bisa tampil sebagai wakil Indonesia dalam kompetisi ASC ini. Meski ada di posisi 2 dalam perolehan medali dibawah Thailand, tapi dari sisi poin secara keseluruhan Indonesia justru lebih tinggi. Karena itu Thailand tak menyandang gelar sebagai juara umum,” tuturnya.

Ditanya soal tantangan terbesar dalam lomba, mengingat Thailand terkenal sebagai jagonya kuliner dan jasa, Hanley membantah hal itu. Tantangan terbesar adalah mengalahkan emosi dalam diri agar tidak mudah grogi atau panik saat menemukan kendala saat bertanding.

“Kalau dari segi teknik, sebenarnya Indonesia tidak kalah dibanding Thailand. Yang penting bagaimana bisa mengontrol diri agar tidak mudah grogi,” ujar mahasiswa jurusan perhotelan tahun 2015 itu menegaskan.

Disebutkan ada 8 keahlian dalam restaurant service yang diujikan, meliputi antara lain sebagai barista, bartender, fruit carving, flambe, napkin folding, boxing table, canape dan virgin irish coffee.

“Kami mendapat pelatihan selama hampir 1 tahun oleh dosen STP Trisakti yang juga ahli restaurant service, Robiatul Adawiyah. Selain juga kesempatan magang di sejumlah tempat untuk mengasah keahlian itu,” ujarnya.

Ditanya soal rencana masa depan, Hanley mengaku ingin mengikuti jejak kakaknya yaitu bekerja di sebuah restoran di Makau, China. Setelah terkumpul pengalaman dan uang, baru ia akan membuka usaha kuliner di Indonesia.

“Saya tertarik belajar cooking, karena melihat prestasi kakak yang sukses bekerja di Makau dengan gaji puluhan juta rupiah. Setelah cukup terkumpul pengalaman dan uang baru kembali ke Indonesia,” ujar anak ke-4 dari 5 bersaudara itu dengan suara yang penuh semangat. (Tri Wahyuni)