Mahasiswa UNIMA Program KKN Dapat Pembekalan Literasi Digital

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memberi pembekalan literasi digital kepada 963 mahasiswa peserta Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Manado (UNIMA), di kota Manado, Sulawesi Utara.

Ketua Tim Literasi Digital Sektor Pendidikan, Bambang Tri Santoso dalam siaran pers, Jumat (7/10/22) menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya Kemkominfo dalam mengedukasi masyarakat seputar teknologi digital. Ditargetakan ada sekitar 50 juta penduduk Indonesia melek digital pada 2024.

Ia mengajak mahasiswa untuk menyampaikan kembali ilmu yang didapat hari itu kepada masyarakat setempat di lokasi KKN. “Coba bikin kegiatan dengan mengundang masyarakat dan sampaikan materi literasi digital yang diperoleh hari ini. Sehingga makin banyak orang yang paham soal literasi digital,” ujarnya.

Hal itu merujuk hasil Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang diselenggarakan Kemkominfo dan Katadata Insight Center pada 2021, disebutkan Indonesia masuk kategori ‘sedang’ yang dinyatakan dalam angka 3.49 dari 5.00.

Tak hanya UNIMA, Kemkominfo juga menggelar literasi digital di sejumlah kampus di Indonesia. Materi yang diberikan didasarkan pada 4 pilar utama, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Sambutan Eektor UNIMA, Deitje A Katuuk yang dibacakan Ketua LPPM UNIMA, Rymond J Rumampuk mengatakan, 963 mahasiswa tersebut akan disebarkan ke 50 lokasi KKN di Sulawesi Utara. Pelaksanaan KKN akan diselenggarakan dalam dua gelombang.

Materi pertama disampaikan Indriyatno Banyumurti dari ICT Watch. Ia membahas tantangan yang harus dihadapi di era teknologi digital.

“Salah satu tantangan yang ada adalah kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pelaku utama pengguna teknologi. Kemampuan SDM yang baik akan memiliki implikasi yang baik pula kepada lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Indriyatno berharap peserta KKN dapat menjadi SDM yang menyampaikan materi literasi digital ke masyarakat. Jika satu mahasiswa menyebarkan materi ini ke 10 orang saja, maka ada 9.630 orang yang mendapat literasi digital.

“Tujuan akhirnya agar internet dapat dimanfaatkan untuk edukatif dan produktif,” katanya.

Hal senada dikemukakan, Donny Budi Utoyo dari ICT Watch. Ia mengingatkan bahaya hoaks dan keamanan digital. Untuk itu, pentingnya menyaring informasi yang didapat dari sosial media, terlebih lagi jika akan menyebarkannya.

“Jika dapat informasi yang belum jelas, jangan langsung disebar. Cek dulu kebenarannya. Karena jejak digital itu akan mempengaruhi banyak hal, salah satunya saat mencari pekerjaan,” katanya.

Selain menyampaikan materi, Donny juga memberi beberapa tips dan trik, bagaimana mengecek kebenaran berita melalui s.id/cekhoaks serta menjaga keamanan digital supaya terhindar dari penipuan online.

Materi terakhir disampaikan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma yang juga anggota Pandu Digital Batch Biru, Aidil Wicaksono. Ia menyampaikan pentingnya literasi digital dari sisi emotional intelligence.

“Hal yang harus dikuasai peserta KKN tak hanya kemampuan teknis, tetapi juga ketepatan pendekatan kepada masyarakat. Ada tiga masalah yang harus dihadapi di lapangan nanti, yaitu komunikasi, alat pendukung, dan tujuan dari KKN itu sendiri,” ujarnya.

Ditambahkan, harus ada timbal balik antara peserta KKN dengan masyarakat setempat. Selain peserta KKN mencapai tujuannya yaitu menyampaikan materi literasi digital, masyarakat setempat juga harus mendapat sesuatu dari adanya interaksi tersebut.

Aidil juga menekankan tujuan dari pelaksanaan KKN. Peserta harus tahu potensi dari desa yang akan ditempati, sehingga bisa memilih pendekatan yang paling tepat. (Tri Wahyuni)