Mahasiswa UP Berhasil Ubah Limbah Kulit Salak jadi Energi

0

JAKARTA (Suara Karya): Mahasiswa Program Studi Kimia Universitas Pertamina (UP), Andrea Hanna Rininditia berhasil mengembangkan kapasitor sebagai penyimpan listrik menggunakan limbah kulit salak.

Inovasi itu mengantarkan perempuan yang akrab dipanggil Dea sebagai juara 2 dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional (Pilmapresnas) 2021 Tingkat LLDIKTI Wilayah III.

“Inovasi itu muncul saat mengikuti mata kuliah Pengantar Teknologi Informasi dan Statistika, yang mempelajari bahasa pemrograman. Mata kuliah lain seperti Kimia Pemodelan dan Analisis Data yang berfokus pada kimia komputasi juga mendorong saya untuk membawa penelitian ini ke tahap yang lebih serius,” kata Dea dalam wawancara daring, Jumat (10/9/21).

Ia menjelaskan, penggunaan kulit salak dalam penelitian, karena limbah tersebut diketahui kaya akan senyawa karbon. Senyawa itu merupakan bahan penyusun yang baik untuk kapasitor.

“Dan kapasitor bank yang menggunakan superkapasitor dari limbah kuit salak, ternyata memiliki potensi menyimpan energi listrik dalam jumlah yang lebih besar,” ujarnya.

Ditambahkan, Dea memakai metode kimia komputasi dalam merancang inovasi energi baru terbarukan (EBT) tersebut. Metode dengan simulasi komputer itu membuat proses uji coba produksi senyawa karbon dari limbah, bisa dilakukan lebih optimal, sehingga hemat biaya dan waktu.

Selain mengakselerasi target capaian bauran EBT, menurut Dea, inovasi tersebut juga bisa membantu pemerintah dalam pemenuhan Sustainable Development Goals (SDGs) point tujuh, yakni memastikan akses terhadap energi menjadi lebih terjangkau, dapat diandalkan dan berkelanjutan.

“Inovasi itu diharapkan membantu penuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah yang belum terjangkau di Indonesia. Pada akhirnya, keberadaan listrik akan meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam mencapai pembangunan kota dan permukiman yang inklusif, aman serta berkelanjutan, sesuai SDGs point ke-11,” katanya.

Dea menambahkan, kampus membiasakan mahasiswanya untuk berinovasi sejak dini, lewat metode pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Mahasiswa juga sering dilibatkan dalam proyek penelitian yang dilakukan para dosen.

“Dukungan untuk keterlibatan mahasiswa di berbagai ajang inovasi juga diberikan secara penuh. Melalui kegiatan magang, mahasiswa diberikan ruang berinovasi untuk memecahkan masalah riil yang terjadi di dunia usaha dan dunia industri,” tuturnya.

Inovasi terkait energi menjadi penting, karena Pemerintah terus menggenjot target bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 mendatang. Karena hingga Desember 2020, Dewan Energi Nasional (DEN) menyebutkan, bauran EBT baru mencapai 11,20 persen.

Untuk itu, diperlukan dukungan dari semua pihak guna mencapai bauran energi nasional.

Kendati demikian, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, pemerintah berhasil menambah kapasitas pembangkit EBT sebesar 1.478 megawatt. Persentase kenaikan rata-rata setiap tahun ditaksir mencapai 4 persen. Pada semester pertama tahun 2021, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat, kapasitas pembangkit EBT naik sebesar 217 megawatt. (Tri Wahyuni)