Mantan Aktivis Mahasiswa IPB Kawal “Perikanan Emas 2045”

0

Di Institut Pertanian Bogor (IPB) siapa yang tak kenal dengan Kusdiantoro. Aktivis mahasiswa dari Fakultas Perikanan ini adalah pemuda yang sangat aktif berorganisasi.

Pria kelahiran Indramayu, Jawa Barat 1977 sangat lekat dengan jabatan-jabatan strategis di organisasi kemahasiswaan IPB.

Tahun 1998-1999, Kusdiantoro dipercaya organisasinya menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa PSP (HIMAFARIN) FPIK IPB. Rupanya sikap kritis Kusdiantoro muda dan jiwa organisatoris sudah mendarah daging. Pada tahun 1999-2000 dia dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (BEM FPIK) IPB.

Setelah menjadi Ketua HIMAFARIN dan Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa FPIK IPB, pada tahun yang sama (1999) Kusdiantoro ditampuk sebagai Sekretaris Jenderal/ Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (HIMAPIKANI) yang beranggotakan lebih dari 45 Perguruan Tinggi (saat itu) hingga tahun 2001.

Menurutnya, salah satu hal besar yang diperjuangkan mereka adalah terbentuknya Departemen Perikanan dan Kelautan, termasuk mengajukan konsep kelembagaan departemen kepada Menteri Eksplorasi Laut yang saat itu dijabat Sarwono Kusumaatmadja.

“Kami ajukan konsep tersebut tepat 2 hari setelah dilantik Bapak Sarwono dilantik menjadi menteri,” kata Kusdiantoro di Jakarta, Selasa (16/8/2022).

Meskipun saat ini sudah dipercaya menjadi Sekretaris Badan Riset dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono, kelihaian suami dari Maya Wilakstanti dalam berorganisasi terus mendapatkan dukungan dan kepercayaannya dari para alumni sarjana perikanan.

Bagaimana tidak, sejak tahun 2014-sekarang ayah dari tiga anak yakni Abrar Ardiona, Arga Abyantara, dan Adishree Amaranggana ini masih tetap dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) untuk periode kedua, setelah sebelumnya menjabat sebagai Sekjen ISPIKANI pada periode 2014-2019.

Memegang dua jabatan penting di lembaga yang berbeda, rupanya tidak membuat Kusdiantoro yang saat ini sebagai pejabat pemerintah menjadi bungkam dan tidak kritis lagi dalam menanggapi permasalahan sektor perikanan Indonesia. Sepak terjang dia bersama ISPIKANI, malah semakin bersinergi untuk membawa sektor perikanan Indonesia berjaya di masa mendatang.

Bersama ISPIKANI, Kusdiantoro menyiapkan rencana besar dalam mendukung pemerintah dalam mengembangkan sektor perikanan dengan menyusun blue print (cetak biru) yang dimulai dari hilir, yaitu pengolahan dan pemasaran, kemudian dilanjut dengan masalah sosial ekonomi perikanan, budidaya perikanan, perikanan tangkap, sumber daya manusia (SDM) perikanan, tata ruang serta pengawasan usaha perikanan.

“Jadi dilihat dulu kebutuhan pasar produk perikanan di dalam dan luar negeri, serta tingkat kesukaan konsumen akan komoditas dan ragam olahannya kedepan,” kata Kusdiantoro.

Sebagai Sekjen ISPIKANI, Kusdiantoro mempunyai tugas yang tidak mudah. Dia harus mengawal penuh cetak biru gagasan “Perikanan Emas 2045” para anggota ISPIKANI dapat terealisasi sebagai sebuah kerangka pemikiran dan milestone jangka panjang pembangunan perikanan nasional.

“Perikanan Emas 2045, adalah legacy ISPIKANI sebagai organisasi profesi dari kumpulan sarjana perikanan Indonesia dalam blue print pembangunan perikanan nasional. Saya harus mengawal gagasan besar ini,” kata dia.

Menurutnya, pengolahan perikanan merupakan suatu sub sektor yang sangat strategis dalam pembangunan perikanan. Karena, perikanan Indonesia dari sisi produksi sudah cukup baik, namun perlu adanya peningkatan dan determinasi dari sisi pengolahan dan pemasaran.

“Kita ambil hilirnya karena ini merupakan suatu sub sektor yang sangat strategis dalam pembangunan perikanan, yaitu pengolahan dan pemasaran, di mana kita melihat bawasanya kita masih menduduki peringkat delapan sampai dengan sepuluh untuk ekspor perikanan Indonesia. Padahal kita produksinya sudah di posisi kedua untuk penangkapan dan kelima untuk budidaya. Artinya sisi produksinya sudah cukup baik, tetapi bagaimana kita meningkatkan sub sektor pengolahan dan pemasaran,” ujarnya.

Kusdiantoro melanjutkan, saat ini telah terjadi peningkatan ekspor, namun produksi perikanan Indonesia untuk ekspor masih untuk pasar tradisional (pasar lama). Dengan demikian, menurutnya perlu dibuat terobosan untuk pasar baru produk perikanan melalui penyelesaian pembahasan masalah tarif dan non tarif ekspor produk perikanan di tingkat bilateral, regional dan internasional.

“Kita melihat selama dua tahun terakhir ada peningkatan ekspor yang sudah cukup baik dilakukan, namun demikian kita juga melihat bawasanya produksi kita untuk ekspor masih untuk pasar-pasar tradisional. Amerika masih menguasai 40 persen, kedua Tiongkok, ketiga Jepang, baru ASEAN dan UE. Artinya kita perlu membuat trobosan baru untuk pasar-pasar baru produk perikanan, di samping produk kita masih berorientasi pada udang yang menguasai hampir 40 persen dari ekspor yang kita hasilkan, disusul oleh tuna, tongkol, cakalang, dan komoditas lainya. Ini suatu gambaran posisi perikanan saat ini dengan adanya kegiatan ini kita membuat suatu desain yaitu Perikanan Emas 2045,” tuturnya.

Menurutnya, ISPIKANI mencoba meramu semua pikiran stakeholder di bidang perikanan, baik itu pemerintah, swasta, akademisi, NGO, komunitas perikanan, dan sebagainya, untuk membuat suatu pemikiran dalam merancang suatu cetak biru (blue print) pembangunan perikanan di Tahun 2045.

Hal ini merupakan bagian dari upaya ISPIKANI untuk membuat suatu solusi bagaimana dengan adanya perikanan emas 2045, Indonesia bisa menguasai pasar ikan dunia, disamping tetap menjadikan perikanan sebagai tuan rumah sendiri yang dapat dimanfaatkan masyarakat indonesia sebagai sumber protein hewani melalui kegiatan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan. Dengan demikian, diharapkan sektor perikanan dapat berjaya di dalam dan luar negeri.

Kusdiantoro juga berharap melalui diskusi ini bisa menghasilkan suatu rumusan yg menjadi bahan di dalam proses penyiapan buku Perikanan Emas Tahun 2045 dan menjadi suatu upaya dalam berkontribusi terhadap pembangunan nasional di sektor perikanan.

Diskusi ini diharapkan menghasilkan masukan-masukan yang menguatkan sehingga menjadi suatu momentum dalam mencetakan blue print tahun 2045. Rumusan diskusi selanjutnya disampaikan kepada pihak terkait sebagai bagian dari suatu pemikiran dalam proses perencanaan jangka panjang nasional hingga tahun 2045. (Bayu Legianto)