Mantan Bomber Timnas Pilih Erick Thohir Ketimbang Tokoh Lama

0

JAKARTA (Suara Karya) : Media sosial mulai ramai membahas bursa Calon Ketua Umum PSSI, apalagi muncul dua kandidat yang sudah mendaftarkan diri ke sekretariat PSSI dalam dua hari berturut – turut.

Netizen memandang skeptis saat La Nyalla Mattalitti kembali mengajukan diri menjadi Ketum PSSI pada Jumat (13/1/2022). Pecinta bola Tanah Air masih trauma kala PSSI dipimpin La Nyalla yang berujung pada pembekuan kompetisi.

Mantan Bomber Tim Nasional dan juga PSMS Medan, Saktiawan Sinaga, pun mengungkapkan hal serupa. Saktiawan lebih memilih adanya figur baru yang membawa harapan baru, ketimbang orang-orang lama yang terbukti tidak membawa sepak bola Indonesia ke mana-mana.

“Jangan (Mattalitti) lagi lah, kalau bisa orang barulah, dengan harapan ada perubahan pula” ujar Saktiawan kepada media Minggu (15/1/2023).

Reaksi berbeda terjadi saat Erick Thohir datang mengembalikan berkas pendaftaran pada Minggu (15/1/2023). Erick yang diusung lebih dari 50 voters datang bersama-sama Kaesang Pangarep, Raffi Ahmad, Atta Halilintar, hingga Baim Wong.

Saktiawan mengaku mendukung pencalonan mantan Presiden Inter Milan itu sebagai orang nomor satu di PSSI. “Iya dong (mendukung Erick),” kata Saktiawan.

Kembali majunya La Nyalla yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD RI memang menuai banyak reaksi negatif. Bahkan, protes keras dilakukan oleh kalangan Milenial melalui akun bernama Agus Sukrisno yang membuat surat terbuka kepada La Nyalla Mattalitti. Agus meminta La Nyalla sadar diri akan kemampuannya mengelola sepak bola Tanah Air. Toh, Agus sampaikan, La Nyalla sudah pernah menduduki kursi Ketum PSSI dan hasilnya nol besar bagi prestasi sepak bola Indonesia.

“Sudahlah Pak Tua, Kami Ingin PSSI Baru,” bunyi judul surat terbuka yang ditulis Agus Sukrisno di _Kompasiana_.

Agus mengaku tak habis pikir, bahkan geli dengan alasan klasik La Nyalla ingin kembali menjadi Ketum PSSI. Agus menilai sepak bola Indonesia memerlukan orang-orang yang profesional dalam mengelola organisasi dan mempunyai pemikiran modern terhadap perkembangan sepak bola.

“Kami tak selugu yang mungkin bapak kira, kami cukup mampu untuk menertawakan jika Bapak menyebut Bapak ingin melunasi utang Bapak terhadap sepak bola Indonesia,” tulis Agus. (Warso)