Mantan Bos Gojek Terpilih Jadi Mendikbud, Prioritaskan Kualitas Guru

0

JAKARTA (Suara Karya): Mantan bos Gojek, Nadiem Makarim dipilih Presiden Joko Widodo untuk mengisi jabatan strategis sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Ia menyebut 3 hal yang akan menjadi prioritas kerjanya dalam 5 tahun kedepan.

“Cukup banyak tantangan yang harus diselesaikan dalam dunia pendidikan kita. Semua berskala besar, tak hanya jumlah muridnya, tapi juga guru dan pemerintah daerahnya,” kata Nadiem usai serah terima jabatan dengan Mendikbud lama, Muhadjir Effendy di Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Muhadjir Effendy akan menempati posisi baru sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).

Kendati demikian, Nadiem optimis dapat menghadirkan solusi yang baik dengan cara mendengar dan mempelajari kondisi yang ada bersama para pemangku kepentingan bidang pendidikan dan kebudayaan.

“Yang terpenting, kita akan mulai bukan dengan cara aksi, tetapi belajar kepada para stakeholder yang ada. Agar program dilakukan secara efektif dan efisien,” ucap putra dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri.

Pria kelahiran Singapura pada 4 Juli 1984 itu kembali menegaskan, prioritas kerja alan difokuskan pada tiga hal, yaitu pembentukan karakter pada generasi penerus bangsa, sistem pendidikan yang berbasis kompetensi, dan penerapan link&match di dunia pendidikan dan dunia kerja.

“Upaya itu semua bisa diraih tergantung pada gurunya. Untuk itu, prioritas utama adalah peningkatan kualitas guru di Indonesia,” katanya.

Menurut informasi Wikipedia, Nadiem Anwar Makarim selama ini dikenal pengusaha terkenal bidang teknologi. Ia adalah pendiri merangkap CEO PT Gojek Indonesia, sebuah perusahaan penyedia jasa berbasis teknologi. Gojek beroperasi di sejumlah negara di Asia Tenggara yaitu Singapura, Vietnam dan Thailand.

Lahir dari anak pengusaha ternama keturunan Minang-Arab, Nono Anwar Makarim, Nadiem menjalani pendidikan dasar hingga SMA di Jakarta dan Singapura. Pada 2002, ia mengambil kuliah di jurusan Hubungan Internasional di Brown University, Amerika Serikat. Ia melanjutkan pendidikan pascasarjana dan meraih gelar Master of Business Administration di Harvard Business School.

Nadiem memulai kariernya sebagai konsultan manajemen di McKinsey & Company pada 2006. Setelah dapat gelar MBA, ia terjun sebagai pengusaha dengan mendirikan Zalora Indonesia. Karirnya berlanjut sebagai Chief Innovation Officer (CIO) Kartuku, sebelum akhirnya fokus mengembangkan Gojek yang dirintis sejak 2011.

Pada 2016, Gojek mendapat pendanaan sebesar 550 juta dolar Amerika atau Rp7,2 triliun dari konsorsium yang terdiri dari KKR, Sequoia Capital, Capital Group, Rakuten Ventures, NSI Ventures, Northstar Group, DST Global, Farallon Capital Management, Warburg Pincus, dan Formation Group. Saat ini, Gojek menjadi perusahaan rintisan terbesar di Indonesia.

Karier bisnis Nadiem Makarim di Gojek membawanya masuk dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Globe Asia. Kekayaannya diperkirakan mencapai 100 juta dolar Amerika.

Nadiem menerima penghargaan The Straits Times Asian of the Year pada 2016. Ia menjadi orang Indonesia pertama penerima penghargaan sejak pertama kali didirikan pada 2012. Penghargaan Asian of the Year diberikan kepada individu atau kelompok yang secara signifikan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan orang di negaranya atau Asia pada umumnya.

Beberapa penerima penghargaan itu termasuk pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, Perdana Menteri India Narendra Modi, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Myanmar Thein Sein.

Nadiem masuk dalam daftar Bloomberg 50 versi 2018. Bloomberg menilai tidak ada aplikasi lain yang telah mengubah kehidupan di Indonesia dengan cepat dan mendalam seperti Gojek. Aplikasi Gojek diluncurkan pada 2015 dengan fokus pada pemesanan ojek, dan kemudian berkembang menjadi aplikasi untuk membayar tagihan, memesan makanan, hingga membersihkan rumah. (Tri Wahyuni)