Suara Karya

Marhajabuan, Memaknai Kembali Budaya Batak Toba lewat Puisi

JAKARTA (Suara Karya): Tak banyak anak muda masa kini yang begitu mencintai budaya leluhurnya. Dari yang sedikit itu, ada Frans Ekodhanto Purba, penyair yang baru saja meluncurkan buku antologi puisi tunggalnya berjudul Marhajabuan.

“Dalam bahasa Batak Toba, Marhajabuan itu artinya perkawinan. Buku ini berisi rangkuman perjalanan hidup saya, dan perkawinan adalah puncaknya,” kata Frans E Purba dalam peluncuran bukunya di Jakarta, Minggu (4/11/2018).

Pria kelahiran Desa Sei, Kecamatan Suka Deras, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara itu menuturkan, budaya merupakan warisan paling adiluhung yang menjadi “modal” bagi dirinya dalam melayari lautan kehidupan. Adat dalam Batak Toba membahas kehidupan secara lengkap mulai dari kelahiran, dewasa hingga kematian.

“Namun sayang, sebagian orang menerjemahkan Adat Batak Toba secara keliru. Adat tersebut dianggap usang, kuno dan suatu kewajiban yang harus dijalankan tanpa ada pertimbangan,” ujarnya.

Padahal, lanjut alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, adat dari kebudayaan Batak Toba itu cukup elastis dan kompleks. Sikapi budaya secara bijaksana, tetapi tidak mengurangi makna yang sesungguhnya.

“Boleh dibilang 65 puisi yang saya tulis dalam buku Marhajabuan adalah upaya untuk memaknai kembali budaya Batak Toba. Pemaknaan kembali itu tentu saja sangat personal, karena semua dilihat lewat ‘kacamata’ saya,” kata anak dari pasangan FP Purba dan L Siringo-ringo itu.

Frans menuturkan, sebagai anak sulung dari 4 bersaudara sejak kecil selalu diajak ke acara-acara adat mulai dari pernikahan, kelahiran, proses lamaran, maupun upacara adat kematian. “Dari sanalah memori saya merekam setiap peristiwa, baik tarian (tor-tor) yang sarat makna, kuliner (yang selalu punya maksud dan arti) maupun umpasa-umpasa adat Batak Tobanya,” ujarnya.

Kecintaan Frans terhadap bahasa puisi sebenarnya telah tumbuh sejak ia duduk di bangku sekolah. Kemampuan berpuisi semakin terasa saat kuliah di jurusan bahasa dan sastra Indonesia, UPI Bandung.

“Puisi bagi saya merupakan ‘alat’ untuk menyampaikan perasaan, isi hati, menghibur maupun menyampaikan kebahagiaan dan perlawanan terhadap apapun,” ujar suami dari Nina Aptikasari boru Sihite dan ayah dari Adriell Cirrillo Purba.

Frans menceritakan, di masa sekolah ia kerap menuliskan puisi bertema cinta. Temanya berubah saat masuk kuliah menjadi perlawanan. Kini puisinya banyak mengarah ke pemaknaan hidup.

“Marhajabuan merupakan kumpulan puisi yang dibuat dari tahun 2013 hingga 2018. Sedangkan buku puisi pertama saya berjudul ‘Kelana Anak Rantau’ terbit pada 2013 lalu,” kata Frans menandaskan. (Tri Wahyuni)

Related posts