Masjid akan Jadi “Center Point” Baru Program JKN

0

JAKARTA (Suara Karya): Masjid akan menjadi titik pusat baru dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Upaya itu dilakukan untuk mengejar pencapaian target Universal Health Coverage (UHC) pada 2019 mendatang.

“Saat ini jumlah peserta JKN sudah sekitar 203 juta jiwa atau 80 persen dari total penduduk Indonesia. Pada 2019, diharapkan terjadi peningkatan peserta hingga 95 persen,” kata Dirut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Fachmi Idris usai penandatangan kerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI), di Jakarta, Senin (6/8).

Hadir Wakil Ketua Umum DMI, yang juga Wakapolri Komjen Pol Syafruddin.

Fachmi menjelaskan, pihaknya akan membuat uji coba di beberapa masjid. Setelah diperoleh model layanan yang tepat, maka hal itu akan diterapkan lebih luas lagi hingga seluruh masjid di Indonesia.

“Pada tahap awal ini, masjid akan menjadi titik pusat baru untuk pendaftaran peserta baru dan edukasi tentanh pembayaran iuran. Selain itu, kemungkinkan dikembangkan model fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di sekitar masjid,” ujar Fachmi.

Ditambahkan, keberadaan program JKN selama ini berhasil membuat masyarakat yang awalnya takut berobat ke fasilitas kesehatan karena dinilai mahal, menjadi lebih berani. Sehingga masyarakat di seluruh Indonesia akan terlindungi kesehatannya.

“Program yang sedemikian bagusnya harus didukung banyak pihak. Karena masyarakat sendiri yang merasakan bagaimana program JKN itu memudahkan mereka dalam berobat saat sakit atau mengalami kecelakaan,” kata Fachmi.

Sementara itu, Syafruddin mengaku senang DMI dilibatkan dalam program JKN. Karena masjid ada di setiap pelosok di Tanah Air. “Ada sekitar 800 ribu masjid di Indonesia. Jika keberadaan masjid ini diberdayakan, maka hasilnya akan luar biasa,” ujarnya.

Ia menegaskan, masjid bisa dipergunakan untuk kemaslahatan umat, bukan sekadar tempat ibadah. Sehingga tak menutup kemungkinan masjid memiliki sarana fasilitas kesehatannya.

“Apalagi daerah pelosok yang minim fasilitas kesehatan. Masjid bisa dimanfaatkan memberi edukasi seputar kesehatan, maupun layanan kesehatan darurat sebelum dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit,” kata Syafruddin menandaskan. (Tri Wahyuni)