Masyarakat Diimbau Tak Abai Pelonggaran PPKM

0

JAKARTA (Suara Karya): Journalist Weekend Rider menggelar acara nongkrong virtual dengan mengusung tema “Tips Mengurangi Risiko ‘Nongkrong’ Bareng Komunitas Saat Pandemi” pada Rabu (6/10). Acara yang dihadiri puluhan anggota komunitas yang hobi touring ini menghadirkan Ahmad Sabran, wartawan Warta Kota yang merupakan anggota komunitas Journalist Weekend Rider dan Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo.

Acara daring ini diselenggarakan menyambut pelonggaran pembatasan mobilitas yang dilakukan Pemerintah seiring dengan perbaikan situasi pandemi. Situasi yang pandemi yang berangsur pulih ini menjawab dahaga masyarakat akan aktivitas di luar rumah. Dalam acara ini, Sabran dan KABAR membahas bagaimana mengurangi risiko yang mungkin muncul ketika beraktivitas di ruang publik.

Menurut Sabran, tentunya ada sejumlah penyesuaian ketika akan kembali nongkrong secara fisik agar mengurangi risiko bahaya yang berpotensi muncul. Sebelum bersiap untuk kembali memanaskan mesin motor dan menggeber motor kesayangan ke warung kopi kesayangan, anggota komunitas layak untuk tahu bagaimana mengurangi risiko saat berkumpul bersama sesama anggota komunitas.

“Mewakili anggota komunitas, kami menyambut baik pelonggaran pembatasan sosial ini. Karena kami dapat kembali bertatap muka secara langsung. Namun sebelum kembali keluar rumah, kami berkomitmen memberikan edukasi kepada anggota komunitas bagaimana mengurangi risiko ketika nongkrong bersama teman-teman,” terang Sabran.

Menurut Sabran, setelah pemerintah mulai mengumumkan pelonggaran PPKM, banyak komunitas mulai rutin bertemu secara offline, karena tidak bisa dipungkiri, bagi sebagian orang nongkrong menjadi bentuk aktualisasi diri, namun harusnya berbeda konsepnya pada masa pandemi, selain menerapkan protokol kesehatan, nongkrong bareng juga harus memberikan kenyamanan baik diri sendiri maupun orang lain, salah satu contohnya dengan mengurangi kebiasaan merokok.

“Nyatanya untuk bisa berhenti merokok bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena ada ‘rasa nyaman’ yang diberikan oleh nikotin yang ada dalam rokok, untuk menggantikan rasa nyaman tersebut, bisa menggunakan produk tembakau alternatif, yang minim asap dan bau, tapi masih mengandung nikotin”, ujar Sabran.

Hal senada dijelaskan oleh Ketua Koalisi Indonesia Bebas Tar (KABAR) Ariyo Bimmo yang mengatakan seperti halnya tidak ada yang dapat menggantikan kenikmatan pada saat touring dengan komunitas, sama halnya dengan mencoba untuk benar-benar berhenti merokok, meski jalan terbaik untuk mengurangi bahayanya adalah tidak merokok sama sekali. Namun jika dirasa sulit, penggunaan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik atau produk tembakau yang dipanaskan, dapat mengurangi risiko kebiasaan merokok.

“Pendekatan harm reduction sebenarnya banyak ditemui di kehidupan sehari-hari, contohnya penggunaan produk tembakau alternatif. Kenapa mengurangi risiko, karena para perokok tetap bisa mengonsumsi nikotin dengan risiko yang lebih rendah,” terang Bimmo.

Ia melanjutkan, pengurangan risiko karena merokok adalah dengan mengeliminasi kandungan TAR yang disebabkan oleh pembakaran. Selain itu, menurut Bimmo penggunaan produk tembakau alternatif juga dapat menambah kenyamanan saat berkumpul bersama teman.

“Karena tidak ada pembakaran yang menghasilkan TAR, produk tembakau alternatif dapat mengurangi paparan zat bahaya 90-95% dibandingkan rokok, ditambah penggunaan produk tembakau alternatif tidak akan meninggalkan bau yang mengganggu kenyamanan sekitar” tutup Bimmo. (Bobby MZ)