Melalui Binaan LPEM BAZNAS Indri Berhasil Menambah Perekonomian Keluarga

0
(Suarakarya.co.id/BAZNAS)

JAKARTA (Suara Karya): Di tengah padatnya pemukiman daerah Pisangan Timur, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Kamis (7/8/20), seorang Ibu paruh baya tengah disibukkan dengan pekerjaan mengemasi nasi box pesanan dari pelanggannya. Wajah kelelahan namun tetap enerjik diperlihatkan saat memilah satu persatu box yang ia siapkan.

Ia adalah Indriyati. Seorang ibu dua orang anak yang merupakan salah satu mustahik binaan Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (LPEM) BAZNAS.

Di hari yang belum terlampau terik itu, Indri sapaan akrab Ibu 47 tahun ini, sudah nampak sibuk memenuhi permintaan pesanan di warung makan miliknya. Dengan dibantu 2 orang pegawainya, Indri terlihat cukup lihai dan cekatan memasukkan berbagai aneka lauk ke box yang sudah disiapkannya lebih dulu.

“Ini agak buru-buru, jam 11.00 mau diambil pesenannya sama rumah sakit,” tuturnya sembari bekerja.

Dengan memanfaatkan salah satu sudut rumah milik sang mertua, Indri menyulapnya menjadi warung kecil yang memiliki andil besar untuk menggerakkan ekonomi keluarganya. Di warung kecil inilah Indri melayani berbagai permintaan pesanan dari pelanggannya maupun yang melakukan pembelian secara langsung.

Tak mudah untuk menemukan warung milik Indri yang memiliki branding bernama Dapur Mama Vira ini. Gang sempit dengan lebar kurang lebih 1 meter khas pemukiman padat Jakarta menjadi jalan yang harus ditempuh untuk menuju warung Indri.

Namun siapa sangka, di warung yang luasnya tak seberapa ini, menjadi saksi perjuangan Indri untuk memerdekakan keluarganya dari himpitan ekonomi. Pekerjaan suami yang hanya berprofesi sebagai pegawai kontrak, dan tanggungan dua orang anak membuat Indri harus ikut memutar otak menjaga roda ekonomi keluarganya tetap berjalan.

Mengawali berjualan bumbu dapur tahun 1998, Indri sempat beberapa kali beralih usaha dagang sebelum menjatuhkan pilihan untuk berdagang makanan siap saji yang ia tekuni saat ini.

“Berdagang kue selama 10 tahun, saya sempat berhenti karena sakit. Namun tidak lama kemudian saya kembali berjualan karena kebutuhan. Saya memutuskan untuk membuka warung berjualan lauk matang,” tuturnya.

Dalam perjalanannya membantu perekonomian keluarga berjualan makanan, Indri menceritakan tak sedikit hambatan yang ia alami, salah satunya saat kehilangan motor yang menjadi alat operasional dirinya untuk mengantar pesanan makanan.

“Pas lagi nganter pesenan untuk pelanggan, motor yang biasa saya pakai untuk operasional diambil orang. Ya sempat bingung karena itu menjadi sarana saya buat mencari rejeki,” ujarnya lirih.

Selain itu, Indri menuturkan ia juga sempat mengalami fase dimana harus kesana kemari mengajukan pinjaman uang untuk membiayai pendidikan dua anaknya.

“Saya sempet putus asa, sedih karena tidak punya uang untuk menyekolahkan anak, karena namanya orang tua pengen buktiin bisa, jika saya memang tidak bisa ngasih harta saya pengen ngasih ilmu, makanya tetap saya perjuangkan,” katanya.

Selama membuka warung makan, kondisi perekonomian keluarganya cenderung stagnan dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Indri terus berjuang dan berupaya untuk mengembangkan usaha demi meningkatkan perekonomian keluarganya.

Hingga akhirnya pada 2019, melalui informasi dari salah satu pedagang di lingkungannya, secara tidak sengaja dipertemukan dengan BAZNAS. Setelah mengumpulkan berbagai informasi, Indri memberanikan diri mengajukan ke BAZNAS agar mendapatkan pendampingan dan tambahan modal.

Dana zakat yang ditunaikan para muzaki melalui BAZNAS, membantunya meningkatkan kapasitas usaha.

“Setelah melewati beberapa proses, saya dapat tambahan modal dari BAZNAS. Saya pergunakan untuk membuat etalase makanan, membeli kompor supaya jumlah dagangan saya bertambah,” kata Indri.

Tak hanya bantuan modal, melalui pendamping lapangan dari Lembaga Pengembangan Ekonomi BAZNAS (LPEM), Indri juga mendapatkan arahan untuk mengembangkan usahanya secara intensif, diantaranya adalah ilmu branding usaha agar dagangan lebih menarik, pengembangan produk, hingga cara pemasarannya.

“Setelah ada pendampingan warung saya sekarang juga terdaftar di aplikasi Go Food jadi bisa dipesan online, selain itu kemasan nasi box untuk pesanan juga di design ulang agar terlihat menarik bagi pelanggan,” tuturnya.

Dalam tempo kurang lebih satu tahun pendampingan BAZNAS, Indri mengaku mengalami perubahan peningkatan ekonomi dalam keluarganya.

“Alhamdulillah dulu saya bekerja sendiri dan hanya dibantu anak saya, sekarang sudah ada tiga orang yang membantu saya setiap hari jualan, dan bisa menabung sedikit demi sedikit,” ucapnya.

Kini roda perekonomian Indri dan keluarga perlahan tapi pasti mulai menemukan jalannya. Perjuangan dan doa yang tak pernah putus dari Indri telah membuahkan hasil. Gerbang kemerdekaan secara ekonomi pun perlahan terbuka.

Perjuangan yang membuahkan hasil ini juga membentuk Indri dalam pengalaman spiritualnya. Dengan semakin banyak berbagi akan mendatangkan keberkahan kepadanya.

“Alhamdulillah setiap hari Jumat saya sekarang udah bisa menyumbang sedikit bantuan berbentuk makanan untuk panti asuhan di sekitar rumah. Ini sebagi wujud syukur atas rejeki yang saya dapatkan,” tutupnya.

BAZNAS mengajak masyarakat untuk membantu mereka yang tak kenal lelah berjuang mencapai kemerdekaan ekonomi keluarga dengan berzakat berjuang bersama melewati badai krisis akibat pandemi Covid-19. (Pramuji)