Memajukan Kebudayaan Desa, Belajar dari Suku Dayak Deah

0
Daya Desa dan Daya Warga di Desa Pangelak, Kalimantan Selatan menjadi pemandu dalam pameran lukisan dengan media 'upak pontutn' (kulit kayu). (Dok Kemdikbudristek)

JAKARTA (Suara Karya): Desa Pangelak, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan berhasil mengembangkan upak pontutn (kulit kayu) menjadi peralatan hidup yang memiliki nilai seni dan budaya Dayak Deah dan bernilai jual.

Masyarakat Desa Pangelak juga memberi edukasi kepada generasi muda tentang potensi upak pontutn (kulit kayu) sebagai ikon dari Dayak Deah.

Upaya itu dilakukan untuk mencari generasi penerus yang mampu mengolah upak pontutn agar olahan kulit kayu tersebut tidak hilang seiring perkembangan zaman.

Mayoritas penduduk Desa Pengelak adalah suku Dayak Deah dengan mata pencarian sebagai petani. Upak pontutn merupakan warisan budaya Dayak Deah yang menjadi bahan utama untuk mengolah peralatan hidup seperti tas kecil, baju kulit kayu, aksesoris, dan lain-lain.

Namun seiring berjalannya waktu, olahan peralatan hidup dari upak pontutn sudah mulai jarang dikembangkan. Kulit kayu tersebut hanya diolah dengan mengikuti bentuk atau hasil olahan yang sudah ada sebelumnya. Olahannya tidak mengalami perkembangan.

Salah satu kesulitan yang dihadapi masyarakat Desa Pengelak adalah belum ditemukannya cara pengolahan melalui metode pewarnaan untuk mengawetkan kulit kayu.

Suhadi, seorang pemuda penggerak di Desa Pangelak bersama warga desanya berinisiatif untuk menyelenggarakan lokakarya pengolahan kulit kayu dan pembuatan lukisan kulit kayu pada November tahun 2022.

Lokakarya tersebut bertujuan untuk memunculkan kembali motif-motif Dayak Deah dalam olahan peralatan hidup yang dibuat. Misalkan, lukisan dinding dari kulit kayu, tas kecil, dan asesoris lainnya, yang telah dipamerkan pada awal Desember 2022.

Suhadi merupakan Daya Warga dari Desa Pangelak. Daya Desa dan Daya Warga adalah sebutan untuk tokoh penggerak Pemajuan Kebudayaan Desa, sebuah program yang digagas Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) sejak 2021.

Contoh hasil lukisan yang menggunakan media kulit kayu ( upak pontutn) di Desa Pangelak, Kalimantan Selatan. (Dok Kemdikbudristek)

Pada 2021, Daya Desa dan Daya Warga dari Desa Pangelak sudah berhasil mendapat motif-motif Dayak Deah dari hasil riset. Setelah proses temu kenali budaya, motif-motif tersebut memiliki arti mendalam bagi masyarakat Dayak Deah.

“Kami riset untuk menggali kembali motif-motif Dayak Deah dengan mendatangi tokoh-tokoh adat sebagai narasumber. Hasil riset dari motif tersebut diputuskan lewat musyawarah adat dengan seluruh tokoh adat dan pemerintahan desa,” ujar Suhadi.

Ditjen Kebudayaan Kemdikbudristek terus menggaungkan semangat pemajuan budaya, khususnya di wilayah pedesaan. Sejak 2021, Ditjen Kebudayaan meluncurkan program Pemajuan Kebudayaan Desa.

Pemajuan Kebudayaan Desa merupakan platform kerja bersama membangun desa mandiri melalui peningkatan ketahanan budaya dan kontribusi budaya desa di tengah peradaban dunia.

Program itu merupakan salah satu program prioritas Ditjen Kebudayaan, Kemdikbudristek.
Tujuannya mendukung proses dan mewujudkan inisiatif pemajuan kebudayaan melalui pemberdayaan masyarakat desa.

Inisiatif pemajuan kebudayaan diharapkan dapat tertuang melalui Dokumen Pemajuan Kebudayaan Desa, yang kemudian menjadi landasan dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa).

Hal itu sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menyatakan bahwa pemajuan kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Program Pemajuan Kebudayaan Desa memiliki tiga tahapan dalam pelaksanaannya, yaitu Temu Kenali Potensi, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Ketiga tahapan tersebut memberdayakan seluruh unsur masyarakat desa, seperti kepala desa, kepala adat, tokoh masyarakat, dan para pemuda.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid menyampaikan, peran aktif dan kolaborasi antara warga, perangkat desa, dan pendampingan oleh Daya Desa serta Penggiat Budaya telah berhasil menghasilkan program yang komprehensif.

“Semangat program Pemajuan Kebudayaan Desa adalah membuka akses informasi, jaringan dan pasar bagi masyarakat desa. Selain itu, program juga bertujuan menjadi wadah ekspresi serta membuka ruang-ruang budaya yang selama ini sudah banyak dilakukan masyarakat desa,” ujarnya. (***)