Membentuk Manajemen Talenta Nasional untuk SDM Unggul

0

Oleh: Hafidz Mukhsin

Indonesia memiliki banyak potensi anak bertalenta yang dapat dikembangkan menjadi individu-individu sumberdaya manusia unggul. Untuk itu diperlukan sistem pengelolaan anak-anak bertalenta yang direncanakan dan diimplementasikan secara konsisten dan dikemas dalam “manajemen talenta nasional.” Ini memerlukan program-program manajemen talenta yang operasional.

Manajemen Talenta Nasional (MTN) memerlukan pemikiran yang memberikan arah kebijakan yang mampu memberikan fleksibilitas aturan untuk melakukan identifikasi, rekrutmen, pengembangan, sampai ke proses kapitalisasi talenta unggul di seluruh Indonesia. Pencapaian akhirnya adalah Pelajar Pancasila yang akan menghasilkan Generasi Emas 2045.

Hanya saja, saat ini kesenjangan termasuk pendidikan masih menjadi permasalahan utama yang muncul dalam melihat berbagai persoalan di Indonesia. Namun, masalah kesenjangan tersebut rupanya seperti terjawan melalui kebijakan “Merdeka Belajar” yang dianggap sebuah terobosan atau Tol Sumber Daya Manusia (Tol SDM) dari Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan pendidikan yang meliupti guru, institusi pendidikan, masyarakat, dunia usaha dan dunia industri, serta masyarakat luas diharapkan dapat menjadi agen perubahan serta memberikan pengaruh dan dukungan sepenuhnya dalam menciptakan SDM unggul. Tujuan akhirnya adalah menciptakan profil Pelajar Pancasila yang beriman, beraqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berkebinekaan “nasional” global.

Dalam implementasinya MTN diperlukan grand desain sebagai kerangka program dan strategi kebijakan. Langkah ini, didukung dengan pemetaan kebutuhan dan persediaan talenta, database talenta (talent pool), peningkatan keahlian dan kapasitas, penciptaan ekosistem pendukung talenta, serte pembentukan Lembaga manajemen talenta nasional.

Dalam pelaksanaan kegiatan manajemen talenta reformasi dan reorganisasi di Kemendikbud dengan pembentukan unit Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) menjadi salah satu strategi jitu agar ada lembaga yang mengembangan kebijakan operasional dan mengelola berbagai ajang prestasi dan talenta serta melakukan kurasi dalam bentuk registrasi dan lisensi kepada berbagai pihak yang menyelengarakan ajang prestasi dan talenta peserta didik dan satuan pendidikan seluruh di Indonesia.

Pengelolaan yang selama ini ditangani oleh masing-masing direktorat teknis dijadikan satu oleh Puspresnas. Melalui Puspresnas diharapkan talenta yang tersebar di seluruh pelosok negeri yang selama ini belum teridentifikasi dengan baik sehingga dapat dikordinasikan dan dilakukan kurasi dengan melibatkan seluruh ekosistem talenta nasional di seluruh wilayah Indonesia. Pelibatan ekosistem MTN melalui lima unsur penting (penta-helix) meliputi, 1) pemerintah pusat dan pemerintah daerah, 2) Kemendikbud; 3) Kemendagri, Kemenpora, Kemendes. 4) perguruan tinggi; dan dunia usaha/dunia industri, karang taruna dan PPK. Dengan pelibatan ekosistem MTN tersebut diharapkan akan dapat menciptakan filantropi guna mendorong kolaborasi dan sinergi guna menciptakan lingkungan yang kondusif dalam mengakuisisi talenta dan pengembangan potensi, minat, dan keahlian serta prestasi talenta Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan kita melihat bahwa banyak talenta Indonesia yang diambil dan dimanfaatkan di luar negeri. Hal tersebut menjadi bukti bahwa manajemen talenta nasional di negeri ini masih perlu diperbaiki. Alangkah sayangnya apabila mereka hadir membawa nama bangsa lain dalam kancah internasional, sementara negara kita sangat membutuhkan talenta tersebut untuk mengharumkan nama bangsa dalam persaingan global. MTN perlu menjadi prioritas nasional dan digarap secara serius dan terpadu serta berkelanjutan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa siswa dan mahasiswa kita telah mengukir prestasi internasional, namun secara jumlah dan kualitas mendali yang dicapai belum sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang memiliki potensi unggul. Hal tersebut menjadi kunci jawaban lemahnya pencarian dan pembinaan serta pengelolaan talenta nasional di seluruh negeri ini. Banyak prestasi bagus di tingkat daerah, dan nasional berhenti dalam kancah nasional karena kurangnya sistem pembinaan prestasi.

Permasalahan fasilitas dan dukungan serta partisipasi dari pemerintah daerah maupun pihak terkait menjadi permasalahan klasik. Kurangnya integrasi dalam program kerja dan tidak fokusnya pada pengembangan talenta nasional menjadi permasalahan pokok. Kolaborasi dalam fasilitasi dan bersinergi dalam pembinaan dan pengelolaan talenta nasional perlu bangun melalui kelembagaan talenta nasional.

Pada masa pandemi Virus Corona (Covid-19) ini pemerintah menghimbua kepada seluruh masyarakat untuk melakukan pembatasan aktivitas masyarakat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan Covid-19. Perlu kebijakan agar aktivitas pembinaan dan pengembangan talenta tetap berjalan secara maksimal melalui pengembangan platform dan aplikasi untuk berbagai ajang talenta dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, dan tetap berupaya untuk tetap menyelenggarakan kompetisi tingkat nasional maupun internasional dalam semangat adaptasi kebiasaan berprestasi baru.

Dengan demikian, harapan dan impiannya adalah terbentuknya Manajemen Talenta Nasional (MTN) yang berfungsi mengelola MTN sebagai kelembagaan dengan membentuk Gugus Tugas MTN di seluruh Indonesia sebagai akar rumput. Ditetapkannya grand design yang mampu memberikan fleksibilitas aturan untuk melakukan identifikasi, rekrutmen, pengembangan, sampai ke proses kapitalisasi talenta unggul.

Pusprenas dapat berperan strategis untuk mendukung program MTN melalui program dan kegiatan pengembangan prestasi peserta didik, mampu melayani sektor “hulu” pengembangan talenta nasional untuk menemukenali, membina, dan mengembangkan talenta anak Indonesia sesuai talenta dan bakat secara akademik maupun nonakdemik untuk dapat mendukung daya saing bangsa. “Lembaga” ini dapat terbantu melalui UPT Balai Besar Talenta dan Gugus Tugas yang tersebar di seluruh negeri menjadi jaring laba-laba yang siap menemukenali talenta di berbagai pelosok negeri.

Terwujudnya ekosistem MTN dengan pelibatan pemerintah propinsi/kabupaten/kota serta dunia usaha dan dunia industri di Indonesia, dalam bentuk dukungan dana dan fasilitasi ajang talenta di setiap daerah. Sementara bagi peserta didik yang juara di tingkat daerah untuk dibantu dan dibina, diberi dukungan anggaran untuk dapat bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.

Akhirnya, tercipta generasi emas Pelajar Pancasila yang dapat berkontribusi dalam pembangunan nasional, menjadi akselerator perkembangan ekonomi menuju Indonesia unggul, produktif dan berdaya saing di tengah perubahan dunia.***

Penulis adalah: Koordinator Perencanaan Balitbang Kemendikbud