Mendag Minta Asephi Berperan Tingkatkan Ekspor Produk Kerajinan

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita membuka secara resmi Musyawarah Nasional ke-8 Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI), di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Dalam sambutannya, Engar menjanjikan memberikan kemudahan bagi para eksportir kerajinan dalam dalam mengambangkan bisnisnya. Pasalnya, kata dia, bisnis dibidang kerajinan (handycraft) ini dapat menyerap banyak tenaga kerja UKM di daerah.

“Kami berharap para pengusaha kerajinan dapat meningkatkan ekspornya. Pemerintah akan memberikan prioritas kepada kegiatan handycraft ini, karena begitu banyak menyerap tenaga kerja UKM. Dan kalau melihat suatu daerah maka terlihat kerajinannya, begitu banyak dan beraneka ragam sehingga memberikan apresiasi dari dunia,” katanya.

Menurut Mendag, dorongan peningkatan ekspor ini, sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo yang berungkali menekankan agar ekspor Indonesia ditingkatkan.

“Bapak Presiden berulang kali menekankan agar ekspor kita ditingkatkan dan ekspor yang mempunyai nilai tambah, jangan pernah kita tergantung kepada komoditi-komoditi tertentu. Kita baru saja merealisasikan lima perjanjian dagang internasional dari 12 perjanjian dagang yang ditargetkan rampung pada 2019-2020,” katanya menambahkan.

Dia juga berharap kepada ASEPHI agar organisasi ini tidak berjalan di temoat. Namun demikian, Enggar mengapresiasi atas diselenggarakannya Munas ini. Selain itu, dia juga mengapresiasi kinerja Asephi yang selama ini telah sukses selenggarakan kegiatan tahunan seperti Inacraft.

Pihaknya juga meminta agar tidak hanya mengundang saat terselenggara acaranya saja melainkan seluruh jadwal kegiatan Inacraft agar bisa diberikan kepada atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Pada kesempatan itu, Enggar juga meminta agar Asephi memperkuat kepengurusannya di daerah. “Berikan kesempatan kepada daerah untuk menyalurkan karya-karyanya. Tadi saya juga mendengar bahwa Sulawesi Selatan belum ada perwakilannya dan  belum terbentuk BPD nya. Karena setiap antar daerah berbeda kekhasan masing-masing yang bisa dijual dan ditonjolkan,” ujar Enggar.

Sementara itu, Sekjen Asephi, Baby Jurmawati Djuri, mengakui bahwa ekspor produk handycraft belum maksimal, yakni baru mencapai kurang lebih di bawah 5 persen. Tapi  menurutnya, jumlah tenaga kerja yang diserap sektor ini jauh mencapai ke bawah.

Karenanya, dia mengatakan, melalui Munas ini, pihaknya akan menggenjot lebih cepat seiring dengan perkembangan dunia yang dinamis menuju revolusi industri 4.0 atau era digital. Dimana pemerintah saat ini menargetkan produk kerajinan meningkat hingga 9 persen pada tahun2019. Dan sepanjang 2018, pengapalan produk handycraft nasional mencapai 1,2 milyar dollar AS. Ekspor ditujukan ke 50 negara.

Angka ini naik empat kali lipat dibanding tahun 1999 yang sekitar 300 juga dollar AS . Negara tujuan utama ekspor, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Belanda, dan Inggris. (Gan)