Mendikbud: 251 Mahasiswa Indonesia di Wuhan dalam Posisi Aman

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, 251 mahasiswa Indonesia di Wuhan, China dalam posisi aman dan sehat. Mereka saat ini ada di lokasi karantina, dibawah pengawasan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing.

“Kami minta pada mahasiswa di Wuhan, China untuk bersikap tenang dan jaga kesehatan, sambil menunggu arahan KBRI Beijing untuk langkah selanjutnya,” kata Nadiem dalam siaran pers, di Jakarta, Selasa (28/1/20).

Disebutkan, ke-251 mahasiswa Indonesia di China itu sebagian besar mengambil kuliah di Wuhan, Xianing, Huangshi, Jingzhou, Xianyang, Enshi dan Shiyan. Mereka saat ini dalam kondisi sehat dan belum ada satu pun yang terpapar virus corona terbaru yaitu 2019-nCov. Virus tersebut hingga kini belum ada obat maupun vaksinnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, penduduk dunia saat ini tengah ketakutan atas penyebaran virus corona versi baru dari Wuhan, China yang bergerak cepat.
Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) hingga 27Januari 2020 menyebutkan, virus corona telah menjangkiti lebih dari 2 ribu penduduk dengan 71 kematian di 14 negara, yaitu Jepang, Vietnam, Singapura, Malaysia, Thailand, Nepal, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, Perancis, Australia dan Amerika Serikat.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) di Beijing, China, Yaya Sutarya melaporkan, pihak KBRI terus melakukan koordinasi melalui grup jejaring sosial gabungan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) dan Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia.

“Kami saling memberi informasi terkait kasus virus corona langsung dari kejadian di lapangan. Kami juga berkoordinasi dengan otoritas setempat. Informasi terbaru kami peroleh setiap pagi dan sore,” ujarnya.

Hal itu dilakukan, lanjut Yaya, karena pemerintah berkomitmen dan memastikan semua WNI dalam keadaan aman dan tenang sampai situasi normal. Selain memberi dukungan terhadap WNI di Wuhan sebagai antisipasi keterbatasan bahan pokok dan logistik.

Disebutkan, saat ini persediaan logistik masih mencukupi hingga 5-7 hari ke depan. KBRI juga mulai menyalurkan bahan logistik ke beberapa WNI yang saat ini masih berada di Wuhan. Logistik yang disiapkan, antara lain makanan, obat, masker dan alat kebersihan.

Menurut Yaya, otoritas Republik Rakyat Tiongkok (RRT) membuka diri dan menghargai semua permintaan informasi dari negara asing, termasuk langkah yang dapat dilakukan untuk pemulangan warganya. Semua permintaan dilayani sesuai aturan dan regulasi kesehatan nasional dan internasional.

“Sesuai aturan kesehatan Tiongkok dan internasional, untuk keluar dari wilayah isolasi adalah karantina 14 hari sebelum berangkat dan 14 hari setelah tiba di tempat baru,” ujar Yaya.

Ditambahkan, KBRI sebelumnya telah memulangkan 12 mahasiswa yang berdomisili di Wuhan ke Indonesia. “KBRI secara aktif membantu mahasiswa yang ingin pulang ke Indonesia. Kecuali daerahnya sudah diisolasi otoritas. Kami berusaha berkoordinasi dengan negara asing lain agar diberi akses,” katanya.

Yaya Sutarya menjelaskan, saat ini kampus di Wuhan memperpanjang liburan sampe situasi kondusif. Mahasiswa yang tinggal di asrama kampus dikabarkan dalam kondisi aman. Karena setiap kampus menerapkan standar keamanan yang baik.

“Jika ada mahasiswa keluar asrama untuk beli bahan pangan, langsung diperiksa suhu tubuhnya. Sebelum keluar diimbau pakai masker yang berkualitas baik,” katanya.

Laporan dari Ketua PPIT Wuhan, Nugraha Krisdiyanta per 26 Januari 2020 menyebutkan mahasiswa Indonesia dalam kondisi aman dan sehat. Hampir seluruh kampus di Wuhan melakukan tindakan pencegahan dengan penyediaan masker, sabun cair dan termometer gratis kepada tiap mahasiswa.

“Kami baik-baik saja disini. Tidak benar jika ada mahasiswa Indonesia yang stress di karantina. Ketersediaan pangan cukup, karena masih ada supermarket yang buka. Seandainya kekurangan dana, PPIT Wuhan masih punya dana yang bisa digunakan untuk belanja makanan,” kata Nugraha menandaskan. (Tri Wahyuni)