Mendikbud akan Revitalisasi 900 SMK Berbasis Industri 4.0

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan merevitalisasi program pendidikan vokasi berbasis industri 4.0 pada tahun 2021 ini. Caranya, mengubah kapasitas 900 sekolah menengah kejuruan (SMK) hingga berbasis teknologi 4.0.

“Untuk merealisasikan rencana itu, kami akan kerja sama dengan lebih dari 5 ribu pengusaha dan 250 dunia usaha untuk memperkuat program link&match,” kata Mendikbud Nadiem Makarim dalam webinar bertajuk “Anak Vokasi Zaman Now-Mengenal Vokasi Lebih Dekat” yang disiarkan lewat CNBC Indonesia TV, Minggu (24/1/2021) petang.

Selain jenjang sekolah menengah, lanjut Nadiem, Kemdikbud juga akan meningkatkan kinerja pada 47 perguruan tinggi negeri (PTN) vokasi. Termasuk didalamnya sertifikasi kompetensi untuk 300 dosen.

“Ini adalah target besar yang perlu kita dukung bersama. Karena filosofi pendidikan itu tak sekadar mengisi pikiran siswa dengan teori, tetapi juga menuntun mereka dengan keterampilan yang mumpuni,” ucapnya.

Karena itu, Mendikbud Nadiem berpesan kepada siswa dan mahasiswa untuk memahami minat (passion) dalam diri. Sehingga program studi yang diambil tidak memberi beban saat kuliah. Hal itu penting agar kuliah yang dijalani dapat menyenangkan.

“Kuliah yang menyenangkan akan berdampak pada nilai akademik dan keterampilan yang dipelajari. Kondisi itu memberi peluang lebih besar untuk menjadi orang yang sukses dikemudian hari,” kata Nadiem menandaskan.

Sementara itu Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi), Kemdikbud Wikan Sakarinto menyatakan, para siswa sejak SD, SMP, dan SMA harus mulai memahami profesi yang akan berkembang di masa depan. Karena itu penting bagi orangtua dan guru BK (Bimbingan dan Konsultasi) untuk mengetahui profesi apa saja yang banyak dibutuhkan di kemudian hari.

Ia berharap orangtua masa kini memiliki pola pikir yang tidak lagi menganggap lulusa pendidikan vokasi hanya menjadi ‘tukang’. Karena saat ini program studi di pendidikan vokasi sudah memiliki gelar akademik setara sarjana.

Wikan berpesan kepada para siswa untuk tidak ragu lagi masuk ke pendidikan vokasi. Karena kini tersedia program studi tak hanya diploma 4 (D-4) atau sarjana terapan, tetapi juga program pascasarjana (S-2).

Terkait program link and match, Wikan menyatakan, pemerintah menyiapkan 9 paket kebijakan agar terjadi ‘pernikahan’ antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Lima paket kebijakan di antaranya adalah kurikulum bersama pendidikan vokasi dan DUDI, dosen tamu dan guru tamu dari DUDI minimal 50- 100 jam per semester, magang di industri, komitmen serapan lulusan, serta sertifikasi pendidik dan profesi.

“Targetnya, ada 80-90 persen kampus dan SMK dapat ‘menikah’ massal dengan DUDI. Dari pernikahan massal ini akan dihasilkan banyak SDM kompeten sehingga meningkatnya daya tawar lulusan pendidikan vokasi,” ucap Wikan menandaskan. (Tri Wahyuni)