Mendikbud Dukung Masuknya soal HOT pada USBN Tingkat SD

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyambut baik masuknya soal bernalar tinggi (high order thinking/HOT) dalam Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) jenjang sekolah dasar (SD). Hal itu melatih anak bernalar tinggi sejak dini.

“Saya lihat USBN tahun ini sudah mengenalkan anak pada soal HOT. Ini bagus sekali untuk investasi SDM masa depan,” kata Muhadjir Effendy saat melihat dari dekat pelaksanaan USBN di SD Muhammadiyah 5 dan SD Negeri 07 Kramat Pela, Jakarta Selatan, Senin (22/4/2019).

Mendikbud menilai pelaksanaan USBN tingkat SD juga berjalan baik, mulai dari pembuatan soal hingga pengemasan soal yang tertata dengan baik. Dalam pembuatan soal, sistemnya adalah 20 persen soal dari pusat dan sisanya atau 80 persen dari Kelompok Kerja Guru (KKG).

“Dampak dari sistem pendidikan yang berkualitas baru dirasakan lama. Karena investasi dalam pendidikan itu sifatnya jangka panjang,” kata Muhadjir menegaskan.

Dalam kesempatan itu, Mendikbud berpesan kepada para peserta ujian untuk fokus dalam mengerjakan soal. Kerjakan soal yang paling mudah dulu, baru beranjak ke soal paling sulit. “Kerjakan soal dengan seksama. Artinya tidak tergesa-gesa, maupun berlambat-lambat. Jangan terpengaruh atas informasi soal yang tidak benar,” ucapnya.

Mendikbud juga melakukan kunjungan ke tiga sekolah menengah pertama (SMP) yang lokasinya saling berdekatan di kawasan Mayestik, Jakarta Selatan, yaitu SMPN 11, 19 dan 29. Ia ingin melihat dari dekat Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMP yang juga digelar bersamaan pada Senin (22/4/2019) hingga 4 hari kedepan.

Secara nasional penyelenggaraan ujian nasional (UN) tingkat SMP diikuti sekitar 4,2 juta siswa pada 56.505 satuan pendidikan. Dari jumlah itu, ada 11 provinsi yang menggelar UNBK dengan persentase di atas 85 persen. Provinsi itu antara lain Aceh, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Sumatera Selatan.

“Saya dengar banyak sekolah, terutama di perkotaan menyelenggarakan UNBK dalam 1 shift. Jadi tak ada siswa yang harus menunggu lama untuk ikut UNBK,” tuturnya.

Ia berharap tahun depan UNBK tingkat SMP dapat ditingkatkan hingga 100 persen. Karena UNBK meminimalkan terjadinya kasus kecurangan seperti di masa lalu. “Kendala mungkin ada pada sekolah di wilayah 3T (terluar, terdepan, tertinggal). Semoga kendala ini bisa diatasi bersama pemerintat pusat dan daerah,” katanya.

Soal kasus peredaran foto soal UNBK oleh seorang siswa di tingkat sekolah menengah atas (SMA), Muhadjir mengatakan, pelakunya sudah diberi sanksi yaitu nilai nol. Ia harus ikut ujian ulangan.

Pada kesempatan itu Mendikbud minta pada para pengawas untuk memahami peraturan selama ujian. Salah satunya larangan membawa handphone dalam ruangan. Tak hanya siswa, tetapi juga guru pengawasnya.

“Saya kira keteledoran itu dari pihak pengawas dan keisengan peserta yang tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya dapat menimbulkan perkara besar. Pelaku tidak tahu kalau teknologi dapat melacaknya dengan cepat,” kata Muhadjir menandaskan. (Tri Wahyuni)