Mendikbud: Guru Terdampak Cuaca Ekstrem di Tahun Baru Dapat Tunjangan Khusus

0

JAKARTA (Suara Karya): Guru yang rumahnya kebanjiran dan rusak berat akibat hujan badai pada malam tahun baru akan diberi tunjangan khusus selama 3 bulan. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban guru dalam memperbaiki kerusakan yang ada.

“Kesejahteraan guru itu sangat penting, apalagi saat sulit seperti ini. Semoga bantuan tersebut dapat meringankan beban para guru,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim saat meninjau sekolah roboh di SD Negeri Cirimekar 02, Kota Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin (6/1/20).

Pada kesempatan itu, Nadiem didamping Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar dan Menengah (PAUD-Dikdasmen), Kemdikbud, Harris Iskandar.

Pemberian tunjangan khusus itu, lanjut Nadiem akan dikoordinasikan oleh dinas pendidikan di wilayah masing-masing. Kepala sekolah diminta koorporatif dalam pendataan guru terdampak hujan dan badai pada 1 Januari 2020 lalu.

Bangunan SD Negeri Cirimekar 02 Cibinong yang terdiri dari 5 ruang kelas itu terlihat berantakan. Atapnya roboh karena baja ringan yang menjadi penahan genteng tanah tak mampu menahan curah hujan yang lebat. Baja ringan terlihat patah, sebagian melengkung, genteng pecah berantakan dan sebagian dinding bangunan juga roboh.

Kepala Sekolah SDN Cirimekar 02 Cibinong, Siti Choeriah menjelaskan, robohnya atap dari sekolahnya terjadi dini hari pada 1 Januari 2020. Beruntung, musibah terjadi saat liburan sekolah, sehingga tak ada korban jiwa.

Satu bangunan lain yang juga terdiri dari 5 kelas terpaksa dibiarkan kosong, karena atapnya dibangun dengan material serupa. Para siswa belajar dibawah tenda darurat dari plastik tebal berwarna biru. Rencananya mereka akan mengungsi ke sekolah lain, agar proses belajar berlangsung nyaman dan aman.

“Rencananya para siswa akan kami pindahkan sementara ke SDN Cirimekar 01. Sudah ada arahan dari Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Bogor,” tuturnya.

Mendikbud dalam kesempatan itu meminta para siswa untuk bersabar dan tetap semangat, meski belajar di kelas-kelas darurat. Bantuan lain juga diberikan berupa 100 paket perlengkapan sekolah yang berisi seragam sekolah, seragam pramuka, alat tulis, satu unit tenda kelas darurat, 600 eksemplar buku modul belajar mandiri, dan 150 eksemplar materi esensial serta 1.800 buku cerita.

Terkait perbaikan sarana dan prasarana pendidikan yang rusak, Mendikbud mengungkapkan, pihaknya berkoordinasi dengan Pemda, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Inilah pentingnya koordinasi lintas kementerian/lembaga baik di pusat maupun di daerah. Karena, jika tidak dikeroyok secara bersama-sama oleh bermacam instansi, maka hasilnya tidak akan beres-beres,” kata Nadiem.

Guna mendukung upaya tersebut, Nadiem menambahkan, pihaknya saat ini akan melakukan pendataan bangunan sekolah, guru dan siswa terdampak bencana. “Kami bahkan punya tim yang langsung terjun ke lapangan sejak hari pertama pascabencana,” ucapnya menandaskan. (Tri Wahyuni)