Mendikbud: Jumlah Sekolah Rusak Gempa Sulteng Masih Dihitung

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan pihaknya akan fokus menangani masalah sekolah di daerah terdampak gempa Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah.

“Hingga saat ini kami belum punya data berapa sekolah rusak. Daerah belum bisa bergerak, karena jalur darat terputus dan jalur udara sangat terbatas,” kata Muhadjir usai upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya Jakarta Timur, Senin (1/10).

Muhadjir menjelaskan, sejumlah kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemdikbud di Sulawesi Tengah mengalami kerusakan, terkena dampak gempa dan tsunami. “Ada 1 karyawan yang meninggal dunia terkena runtuhan kantor yang rusak karena gempa,” ujarnya.

Muhadjir menambahkan, ada sejumlah karyawan Kemdikbud pusat saat ini tertahan di Palu. Karena saat gempa, Direktorat Kepercayaan dan Tradisi, Ditjen Kebudayaan, Kemdikbud tengah menggelar lokakarya di kota Palu.

“Keterbatasan penerbangan, mereka masih tertahan di Palu. Kondisinya semua selamat,” tutur Menteri.

Ditanya soal rencana keberangkatan ke Palu, Mendikbud mengatakan, pihaknya masih menunggu ketersediaan pesawat. “Mungkin minggu depan. Tapi kami tetap kontak dengan pihak UPT di Palu untuk mengetahui perkembangan dari jam ke jam,” ujar Muhadjir.

Gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) dengan terpusat di kedalaman 10 kilometer pada 27 kilometer timur laut Donggala, Sulawesi Tengah, terjadi pada Jumat (28/9), pukul 17.02 WIB. Gempa itu memicu tsunami setinggi 0,5 hingga enam meter di pesisir barat Sulawesi Tengah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang terjadi Kota Palu, Sulawesi Tengah, hingga Senin (1/10) mencapai 1.203 orang. Sebanyak 61 Warga Negara Asing (WNA) juga terdampak bencana. Jumlah pengungsi di Palu diperkirakan 16.732 jiwa yang tersebar di 123 titik. (Tri Wahyuni)