Mendikbud Minta Perbanyak Pengajaran Sastra di Sekolah

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk perbanyak pengajaran sastra dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal itu sekaligus mengembalikan tradisi sastra di sekolah, khususnya sastra klasik.

“Seminggu sekali, guru memberi tugas ke anak untuk membaca dan membahas buku sastra klasik,” kata Muhadjir dalam Konferensi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dan Kongres Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) di Jakarta, Senin (8/10) malam.

Selain mengajar sastra Indonesia, lanjut Muhadjir, guru juga diminta memiliki kemampuan mayor dan minor. Untuk mayor adalah kemampuan mengajarkan bahasa Indonesia, sedangkan minor berupa kemampuan dalam bahasa asing dan bahasa daerah.

“Kemampuan berbahasa asing dan bahasa daerah menjadi penghubung antarbahasa. Khusus penguasaan bahasa daerah, guru bisa menjadi agen untuk melestarikan bahasa daerah,” tuturnya.

Dengan demikian, lanjut mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, guru bahasa Indonesia juga bisa menjadi pengawal, penggerak, dan penjaga harga diri bangsa dalam berbahasa. Apalagi, bahasa Indonesia diharapkan menjadi bahasa internasional.

“Guru bahasa Indonesia juga harus menguasai bahasa daerah dan bahasa asing. Yang bisa melestarikan bahasa daerah, ya guru bahasa Indonesia. Kita juga ingin agar bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa internasional,” ujarnya.

Untuk itu, Muhadjir meminta para guru bahasa Indonesia yang mengabdi di suatu daerah harus memahami bahasa daerah tersebut. AGBSI bisa terus melakukan pembinaan dan pelatihan bagi para guru.

“Saya minta guru bahasa Indonesia tidak hanya mengajar bahasa Indonesia saja, tetapi juga melestarikan bahasa daerah. Kita memiliki lebih dari 600 bahasa daerah, tidak mungkin membuka jurusan untuk semua bahasa daerah,” ujarnya.

Mendikbud minta pada AGBSI agar terus mendorong profesionalisme guru, baik dari aspek keilmuan, maupun kualitas pembelajaran, serta tanggung jawab sosial. Asosiasi guru, termasuk AGBSI, diharapkan mulai menyusun dan menetapkan kode etik profesi guru serta membentuk dewan profesi.

Muhadjir kembali menegaskan, organisasi profesi harus mampu menjaga martabat profesi. Asosiasi guru harus dapat mengawasi kinerja para guru. “Asosiasi profesi harus ikut mengawasi kerja sejawatnya. Sehingga mereka memiliki kebanggaan atas profesinya. Jika ada pelanggaran dalam praktik profesi, dewan profesilah yang akan melakukan pembinaan,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Supriano berharap konferensi dan kongres AGBSI dapat mendorong terciptanya tradisi literasi, khususnya bagi generasi milenial.

“Keberhasilan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia ditandai dengan kuatnya minat baca, menulis dan berwacana. Hal itu hendaknya diikuti dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik, benar dan santun,” ujarnya.

Pada kesempatan sama, Ketua AGBSI, Jajang Priatna menyatakan bahasa dan sastra Indonesia berperan penting dalam pendidikan karakter. Pasalnya, bahasa dan sastra Indonesia berkaitan langsung dengan penanaman jiwa kebangsaan atau nasionalisme Indonesia.

Disebutkan beberapa target yang ingin diraih pascakonferensi, antara lain peningkatan kemampuan kerja sama dengan berbagai pihak untuk percepatan kemampuan literasi di sekolah. Selain bimbingan teknis, pembinaan, dan fasilitasi lain yang relevan dengan konsep pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. (Tri Wahyuni)