Mendikbudristek Ajak Guru Ciptakan Suasana Belajar yang Menyenangkan

0

JAKARTA (Suara Kary): Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim mengajak guru untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi peserta didik.

“Karena itu penting bagi guru untuk memahami potensi setiap peserta didik,” kata Nadiem dalam puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) ke-52, di Jakarta, Sabtu (26/11/22).

Pernyataan tersebut juga ditegaskan dalam acara bincang santai Mendikbudristek dengan guru inspiratif dari berbagai wilayah dan aktris Maudy Ayunda.

Selaku moderator, Nadiem menggali praktik baik yang guru lakukan dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan di sekolah.

“Suasana belajar juga berdampak terhadap kemampuan anak dalam menyerap materi pembelajaran. Karena yang terpenting adalah bagaimana anak mencintai belajar, tak sekadar menghapal pembelajaran,” tuturnya.

Kepala Sekolah SDN 09 Padangsambian, Bali, I Ketut Budiarsa yang menjadi narasumber dalam dialog itu mengungkapkan, pihaknya menggunakan pendekatan humanis sebagai strategi awal untuk merangkul dukungan guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka.

“Saya berupaya meyakinkan para guru senior untuk bersama-sama belajar. Kepada guru yang lebih muda, Budi mendorong mereka untuk lebih semangat dalam belajar,” ujarnya.

Budi membangun komunitas dengan memanfaatkan Platform Merdeka Mengajar (PMM). Lewat komunitas itu, guru didorong merancang pembelajaran yang berpihak pada anak-anak.

Hal senada dikemukakan Guru Penggerak Angkatan I dari SMA Gabungan Jayapura, Dolvina Lea Ansanay. Ia bercerita proses penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.

“Saya merasa model pembelajaran ini sangat menarik, karena melihat bakat dan potensi peserta didik. Meski terbatas, lewat pembelajaran berdiferensiasi kita bisa kreatif dengan mencari celah potensi sumber daya belajar dari apa yang ada di kelas,” ujarnya.

Dalam aktivitas pembelajaran, Dolvina memacu anak-anak untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Saat dicoba, ternyata siswa punya kemampuan dan kompetensi yang tidak disadari selaku guru.

“Saya bagi kelompok agar mereka bisa unjuk kebolehan berdasarkan minat mereka masing-masing,” katanya.

Sementara itu, guru ASN PPPK yang mengajar di UPT SDN 28 Indrapura Batu Bara, Sumatra Utara, Lili Gusni mengaku bersyukur karena pengabdiannya selama 18 tahun akhirnya berbuah status ASN PPPK.

“Perolehan status ini memacu saya untuk berkarya lebih baik lagi,” ucap perempuan yang aktif dalam komunitas Ibu Penggerak tersebut.

Guru Penggerak SMPN 1 Sungkai Selatan Lampung Utara, Eka Widiastuti mengungkapkan tantangan yang ia hadapi pascapandemi di mana peserta didik berkurang minat belajarnya.

Menyikapi kegemaran siswanya bermain gim, Eka tergerak untuk menciptakan materi ajar melalui gim. Namun, ia kembali dihadapkan pada terbatasnya kuota internet yang dimiliki siswa karena latar belakang ekonominya menengah ke bawah.

“Akhirnya saya membuat aplikasi yang bisa diakses siswa melalui HP android tanpa memakan kuota internet. Selain juga membuat penilaian bersama dengan siswa dengan membuat inovasi pembelajaran ‘Petak Umpet Soal’.

“Ketika saya desain seperti itu, anak-anak berlomba-lomba mencari soal di berbagai tempat dan menjawab soal dengan semangat,” kata Eka yang bersyukur karena metode itu bisa meningkatkan animo siswanya untuk belajar.

Dalam kesempatan yang sama, Maudy Ayunda mengaku sangat terkesan dengan cara guru-guru peserta dialog dalam mengajar.

Ia menilai saat ini guru-guru terlihat lebih aktif melibatkan anak-anak dalam proses belajar.

Maudy menceritakan pengalaman semasa sekolah, ketika ia mendapat kebebasan dari guru untuk mengekspresikan pembelajaran dengan cara yang sesuai dengan minatnya, sehingga tumbuh rasa kepemilikan dalam proses belajar itu.

“Apalagi mendapat nilai yang bagus. Ada kepuasan tersendiri,” ucapnya.

Saat Mendikbudristek menanyakan manfaat setelah mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP), I Ketut Budiarsa mengatakan, pelatihan itu mendorong dirinya untuk memecahkan masalah dengan solusi yang ada di lingkungan sekitar.

Kepsek Budi merasa bangga dan bersyukur karena pola komunikasi yang ia gagas membuat para guru dapat berkolaborasi dengan baik melibatkan stakeholder di sekolah. Awalnya, ia mengajak berdiskusi dengan para guru dalam meramu model pembelajaran yang menyenangkan secara bersama-sama.

“Sekolah kami sudah memiliki perusahaan ramah anak, kelas 1-6 membuat Festival Bukti Karya. Kami memberdayakan potensi sekolah di mana aktivitasnya tidak menggunakan dana BOS. Itu yang saya dapatkan dari PGP,” ucap Budi.

Ke depan, Budi bertekad untuk menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi semua, baik guru maupun siswa. Sehingga mereka selalu tersenyum saat datang maupun pulang sekolah.

Sedangkan Lili Gusni selepas mengikuti PGP berkomitmen untuk terus berkolaborasi dalam berbagai karya. Sebab ia yakin, bergerak sendiri itu bisa tapi bergerak bersama itu hebat.

“Saya akan terus belajar dari guru-guru di Platform Merdeka Mengajar dan komunitas belajar. Saya juga ingin membangun kolaborasi di sekolah untuk menemukan hal-hal baru,” tuturnya.

Sementara itu, Eka Widiastuti akan melakukan perubahan kecil namun berdampak besar dan bisa direplikasi oleh sekolah lainnya di Indonesia.

Maudy Ayunda mengingat masa kecilnya saat bersekolah, di mana sekolah menjadi rumah kedua baginya. Ia sampaikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada para guru Indonesia.

“Semangat terus untuk guru yang menciptakan kecintaan pada anak-anak untuk belajar,” kata Maudy Ayunda kepada para guru.

Menutup sesi dialog, Mendikbudristek mengajak segenap elemen pendidikan, khususnya para pendidik agar selalu semangat untuk berkolaborasi dan bergotong royong.

“Transformasi pendidikan tidak boleh sekadar jadi kebijakan. Ini harus menjadi gerakan dari bawah. Untuk itulah, kita harus sering ngumpul, berdiskusi, bergerak,” ungkap Nadiem. (Tri Wahyuni)