Mendikbudristek: Membangun Toleransi dan Kemanusiaan lewat Puasa

0

JAKARTA (Suara Karya): Membangun toleransi dan kemanusiaan juga bisa dilakukan melalui ibadah puasa. Karena saat berpuasa, kita dituntut untuk menjaga hubungan baik antar-manusia serta menolong orang yang kesusahan melalui sedekah dan zakat.

“Kebiasaan baik itu hendaknya terus dilakukan satuan pendidikan, meski Ramadan telah berlalu. Sehingga tercipta suasana yang damai antar sesama,” kata Menteri Pendidikan, Kebudayaan, riset dan teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim dalam webinar Ramadhan bertajuk ‘Puasa, Kemanusiaan, dan Toleransi’ pada Sabtu (8/5/2021).

Webinar yang digelar Pusat Penguatan Karakter, Kemdikbudristek itu menampilkan pembicara seperti Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, tokoh agama, Habib Husein Jafar Al-Hadar serta Komika, Abdul Arsyad.

Dipilihnya tema toleransi, kemanusiaan dan puasa untuk memberi penyadaran kepada siswa dan guru tentang pentingnya menjaga sikap toleransi di sekolah. Selain mengedukasi tentang menjaga hubungan baik antar-manusia saat berpuasa.

“Karena toleransi merupakan dasar nilai karakter yang harus diterapkan dalam dunia pendidikan maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat,” ucapnya.

Nadiem menekankan kembali pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, terlepas dari latar belakang agama dan golongan. Karena ibadah puasa merupakan praktik beragama yang dijalankan banyak umat.

“Teman kita yang beragama Hindu juga berpuasa di hari besar mereka. Begitu pun teman Kristen yang berpuasa jelang Paskah. Karena itu, toleransi menjadi nilai karakter yang harus dijalankan sebagai bagian dari hidup berkebangsaan,” tuturnya.

Setiap orang, menurut Nadiem, ingin menjalankan ibadahnya dengan tenang dan tanpa paksaan. Karena itu, menjalin pertemanan bisa dilakukan dengan siapa saja.

“Tanamkan dalam benak kita, rasa cinta terhadap perbedaan. Lalu tularkan hal itu ke semua orang, yang memiliki hak yang sama dalam beragama, belajar dan berkarya,” kata Mendikbudristek menegaskan.

Sementara itu, tokoh agama yang akrab di kalangan milenial, Habib Husein Jafar Al-Hadar mengungkapkan, arti puasa yang mengajarkan tentang kemanusiaan dan toleransi.

“Puasa mengajarkan tentang lapar, meski kita mampu membeli makanan. Kita belajar untuk tidak tega membiarkan orang lapar, selama kita masih bisa membantu,” ujarnya.

Habib Husein juga menekankan pentingnya penghayatan iman dalam berpuasa. “Kita belajar tidak mudah marah kepada orang lain. Karena salah satu ciri orang sukses puasa adalah bertakwa. Ciri orang bertakwa, dalam surat Al-Imran disebutkan tak mudah marah, memaafkan orang lain yang telah membuat marah. Dan yang tak kalah penting, bersedekah kepada orang yang membuat marah tersebut.”

Komedian panggung (komika) Abdur Rasyad menceritakan pengalamannya dibully karena logat bicaranya. Pemuda asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu sebenarnya ingin marah, namun ia belajar untuk meredamnya.

“Saya belajar untuk berdamai dengan itu semua ejekan itu,” ucap Abdur seraya mengimbau generasi muda untuk saling merangkul dan menghargai perbedaan yang ada.

Beberapa bentuk intoleransi di dunia pendidikan, disebutkan, antara lain tidak memberi sarana prasarana bagi guru, siswa, mahasiswa dan dosen karena perbedaan SARA (suku, ras dan agama) dan kepercayaan, melarang ibadah agama tertentu di lingkungan sekolah atau kampus, dan memaksa pemakaian seragam atau atribut khas agama atau suku dan kepercayaan tertentu.

Selain itu, menolak pendaftaran pendidik dan peserta didik karena alasan perbedaan SARA juga merupakan bentuk intoleransi.

Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, menyatakan keprihatinannya seputar intoleransi yang terjadi di sekolah. “Kita sering lupa betapa nikmatnya tinggal di Indonesia. Ada negara yang bahkan umat agama apapun, tak boleh mengenakan atribut keagamaannya di ruang-ruang publik seperti rumah sakit dan sekolah,” ujarnya.

Ia mengakui, di berbagai negara memang banyak represi terhadap ragam ekspresi keagamaan yang ditemui oleh berbagai pemeluk agama apapun. “Sementara di Indonesia, hal yang biasa pemerintah membangunkan rumah ibadah untuk masyarakat. Di luar negeri, belum tentu,” ujarnya.

Menurut Yenny, hal itu bisa terjadi karena Indonesia punya ikatan suci Pancasila. “Pancasila itu menyatukan seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), di mana semua orang dapat mengekspresikan kebebasan beragamanya.

“Kondisi yang sangat bagus ini, janganlah dirusak dengan praktik-praktik intoleransi. Justru harus kita kuatkan agar semua orang makin menghargai Pancasila,” katanya.

Yenny menambahkan, sekolah harus bekerja sama dengan orangtua agar ikut mendidik anak dengan sikap menghargai perbedaan dan memperlakukan orang lain dengan baik. “Kalau nilai itu sudah tertanam kuat pada anak, maka anak dapat diajari menghormati orang lain yang berbeda pendapat dan keyakinan,” tuturnya.

Menurutnya, perbedaan pendapat, keyakinan politik, keyakinan agama, semuanya adalah fitrah manusia. Karena manusia dilahirkan memang berbeda-beda. “Perbedaan itu adalah rahmat yang harus disyukuri sebagai nikmat. Peran pendidik memang amat besar. Semoga para pendidik diberikan kekuatan oleh Allah agar dapat mendidik anak-anak kita ber-akhlakul karimah,” ujarnya.

Meski sering bicara tentang toleransi dan saling rukun menghargai, lanjut Yenny, pada kenyataannya, kasus-kasus intoleransi terus terjadi di sekitar kita. Ini karena belum ada kebijakan yang langsung mengarah kepada pencegahan atau penanganan kasus intoleransi.

Dan ironisnya, cukup banyak praktik intoleransi di sekolah dan kampus, yang seharusnya jadi tempat belajar cara menghargai perbedaan lewat pertemanan dan pelajaran di kelas.

Kapuspeka Hendarman menilai, sikap toleransi harus ditumbuhkan pula dalam keluarga dan masyarakat. Tindakan intoleran harus tuntaskan, tak hanya di dunia pendidikan tetapi juga di masyarakat. “Ini menjadi tantangan besar buat kita,” ucapnya.

Gerakan penuntasan intoleransi harus masuk dalam salah satu prioritas Kemendikbudristek. Selai perundungan dan kekerasan seksual, yang semuanya dirajut dalam narasi Tiga Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan kita. (Tri Wahyuni)