Mendikbudristek: PAUD Berkualitas Harus Menyenangkan bagi Anak

0

JAKARTA (Suara Karya): Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dikatakan berkulitas, jika proses pembelajarannya menyenangkan bagi anak. Hal itu bisa dilihat dari aktivitas anak selama berada di satuan PAUD, dimana anak selalu tersenyum, tertawa dan enggan diajak pulang ke rumah.

“Untuk menilai apakah satuan PAUD itu berkualitas, mudah kok. Lihat saja wajah anak-anaknya, apakah mereka gembira atau tidak mau diajak pulang,” kata Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim dalam diskusi dan peluncuran ‘Hari Inspirasi PAUD’ yang digelar Organisasi Aksi Solidaritas Era-Kabinet Indonesia Maju (OASE-KIM), Kamis (4/11/21).

Dalam sesi diskusi itu hadir sebagai narasumber yaitu pendidik sekaligus pendiri Sekolah Murid Merdeka, Najelaa Shihab dan Ketua Bidang I OASE yang juga pakar pendidikan holistik berbasis karakter.

Nadiem mengungkapkan, dari semua riset terkait PAUD, terlihat jelas korelasi antara kualitas PAUD dan kualitas hasil pembelajaran peserta didik. Peserta didik dapat mengakselerasi perkembangan pengetahuan lebih cepat.

Selain harus menyenangkan, kualitas PAUD dapat dilihat dari relevansi preparasi peserta didik ke depan. Tak terbatas pada kegiatan membaca, menulis.dan berhitung (calistung), tetapi bagaimana pendidik dapat menjadi jagoan kontekstual, yang dapat menjelaskan segala hal dalam konteks kehidupan dan permainan anak.

“Setiap daerah di Indonesia memiliki cara yang berbeda mendidik anak usia dini, terutama dalam bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Saya lihat guru-guru PAUD terbaik itu selalu bolak balik menggunakan 2 bahasa untuk meningkatkan relevansi kontekstual kepada anak,” ujarnya.

Dan yang tak kalah penting, menurut Mendikbudristek, inti dari kurikulum PAUD adalah bermain. Semua kegiatan, disusun dalam simulasi permainan, karena evolusi manusia dalam belajar adalah lewat bermain.

“Kalau permainan bukan menjadi utama dari kurikulum PAUD, maka anak tidak akan mencapai potensi optimal pembelajaran. Karena kegiatan belajar dianggap tidak menyenangkan. Motivasi itu kunci. Kalau mereka tidak termotivasi, itu sama saja bohong. Mereka tidak belajar dalam situasi itu,” tuturnya.

Hal senada dikemukakan Najelaa Shihab. Katanya, anak usia dini yang kehilangan pembelajaran di masa pandemi akan berdampak sangat besar. Anak kehilangan kesempatan interaksi dan bersosialisasi. Karena belajar jarak jauh di rumah masing-masing, umumnya hanya melibatkan anak dan ibu.

“Tak ada guru yang membagi perhatian kepada beberapa anak sekaligus, tidak ada kesempatan untuk berbagi mainan, tidak ada kesempatan untuk melatih negosiasi atau mengatasi konflik. Kalaupun ada saudara, itu konflik yang berbeda dari sekolah,” ujarnya.

Berbicara tentang teknologi pembelajaran, Najelaa mengatakan, fenomena itu juga terjadi di jenjang PAUD dan sangat mungkin diaplikasikan serta dikombinasikan dengan pertemuan tatap muka. Ia optimis pertemuan tatap muka (PTM) terbatas bisa mencapai kualitas yang baik selama proses pembelajaran jarak jauh dikelola dengan baik.

Kombinasi itu, menurutnya, bisa jadi solusi untuk banyak orang tua, yang masih ragu bagaimana anak-anaknya bisa kembali ke sekolah dengan durasi dan frekuensi yang sama seperti sebelum pandemi.

Sementara itu, Ratna Megawangi menyampaikan kekhawatiran terkait fakta baru 40 persen PAUD yang menggelar PTM terbatas. Usia emas seorang anak adalah masa yang paling baik untuk menanamkan kebiasaan positif yang berhubungan dengan karakter, menanam kebiasaan baik, dan mengajarkan mereka untuk mengontrol emosi.

“Kesempatan itu hanya sampai usia 7 tahun. Karena itu, saya berharap daerah segera memberi izin pelaksanaan PTM terbatas di setiap jenjang PAUD,” ujarnya.

Alasannya, Ratna menambahkan, banyak sekali kendala saat anak harus belajar dari rumah. Pertama, tidak da struktur yang jelas atau tidak sistematis. Kalau di PAUD, apalagi itu PAUD berkualitas sudah kurikulumnya terstruktur.

“Di sekolah, anak mendapat pembiasaan berbuat baik, menjaga kebersihan seperti bagaimana mencuci tangan, membersihkan mainan secara bersama, berbicara santun kepada orang lain dan kebiasaan saling memaafkan. Itu semua diberikan selama sekolah,” ujarnya.

Kekhawatiran Ratna lainnya adalah kemungkinan terjadinya ‘generation loss’, jika kebiasaan baik tidak tertanam dengan baik secara terstruktur dan sistematis. Dengan belajar di sekolah, biasanya sudah tersedia buku-buku cerita yang bisa memberi inspirasi dan membuat imajinasi anak berkembang.

“Di sekolah pula, ada permainan-permainan dan interaksi dengan teman yang sangat penting untuk mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas yang mungkin sulit didapat di rumah,” katanya menandaskan. (Tri Wahyuni)