Mendikbudristek Tinjau Implementasi Kampus Merdeka di Unpad

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim meninjau implementasi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, Senin (17/1/22).

Dalam kesempatan itu, Mendikbudristek berdialog dengan 60 mahasiswa peserta program MBKM Unpad dan pimpinan perguruan tinggi di Bandung.

Mendikbudristek mengatakan, esensi dari program MBKM dapat dilihat dari delapan indikator kinerja utama (IKU) yang diberikan kepada semua universitas di Indonesia. Pertama, terkait standar
Hal itu bisa dilihat berapa jumlah mahasiswa yang belajar di luar kampus, baik bidang profesional maupun di dunia akademi. Kedua, jumlah dosen yang keluar kampus untuk mencari pengalaman.

“IKU yang lain adalah berapa banyak praktisi yang dibawa ke kampus untuk mengajar, berapa riset terapan yang benar-benar berdampak nyata, berapa prodi yang melakukan kemitraan dengan pihak luar, berapa akreditasi internasional yang diperoleh, dan berapa persen mata kuliah yang penilaiannya berdasarkan proyek atau seminar case,” ujarnya.

Nadiem menambahkan, program MBKM melatih mahasiswa untuk presentasi, berdebat dan berdiskusi. Hal itu akan mengasah cara berpikir kritis.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk memahami bahwa angka bukan lagi menjadi hal penting, tetapi kemampuan berpikir efektif, mampu bekerja sama dengan orang lain, dan bernegosiasi. Hal itu beberapa kemampuan yang dapat membantu dalam menyelesaikan masalah.

“Ketika Anda keluar dari kampus, tidak ada lagi pelampung, penyelamat. Adanya itu hiu-hiu, ombak besar, dan cuaca yang tidak stabil,” tutur Nadiem menganalogikan kondisi dunia kerja yang akan dihadapi mahasiswa setelah lulus dari universitas.

Rektor Unpad, Rina Indiastuti memastikan, saat ini Unpad siap dan mulai bertransformasi. Ia mengaku, universitas yang dipimpinnya telah melakukan berbagai aktivitas dari MBKM. Hal itu bisa dilihat dari mahasiswa yang hadir. Mereka adalah sebagian dari peserta program MBKM.

Hal itu dibenarkan Dekan Fakultas Ilmu Sosial Unpad, Widya Setiabudi Sumadinata, yang juga memastikan siap untuk mengonversi kegiatan mahasiswa ke dalam MBKM.

Dalam dialog, mahasiswa peserta program MBKM antusias dalam menyampaikan hal-hal baik yang diperoleh selama program berlangsung. Merek mengikuti beragam program, mulai dari Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB), Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA), microcredential, hingga program wirausaha.

Salah satu mahasiswa jurusan Antropologi tahun 2019, Elsa, yang peserta program MSIB di salah satu perusahaan e-commerce besar ikut mengapresiasi hadirnya MBKM. Ia merasakan program itu memberinya kesempatan untuk mengembangkan diri lebih baik.

Dari pengalaman dan masukan yang disampaikan selama dialog, Mendikbudristek memahami program MBKM sulit dilakukan secara administratif. Tapi dengan perubahan besar, ia meyakini akan membuat perguruan tinggi menjadi lebih relevan untuk dunia kerja.

“Itulah kenapa Kemdikbudristek merepotkan seluruh kepala prodi se-Indonesia. Mereka harus berpikir cepat, bagaimana memadatkan mata kuliah di 5 semester, karena 3 semester lain akan dipergunakan mahasiswa untuk belajar di luar prodi. Alasannya, karena tak ada satu pekerjaan pun yang butuh satu disiplin ilmu. Semua multidisiplin,” katanya.

Nadiem mengatakan, selama ini dari riset diketahui hanya 15 persen lulusan yang masuk ke dunia kerja sesuai prodi. Untuk itu, ia menekankan pentingnya mengasah jiwa sosial.

“Itulah S1 yang sekarang kita sedang kembangkan. Jadi ketika lulus, mahasiswa sudah setengah matang. Mereka telah mencicipi budaya, agama dan suku berbeda. Saya optimistis, perguruan tinggi bisa melakukannya dalam 2,5 tahun,” kata Nadiem menandaskan. (Tri Wahyuni)