Mengasah Kreativitas Anak lewat “Doodle”, Kenali Caranya!

0
Foto: suarakarya.co.id/istimewa

JAKARTA (Suara Karya): Jangan abaikan jika anak mulai suka membuat “doodle” atau coretan tak jelas di dinding maupun di kertas gambar. Karena lewat doodle, kreativitas seni pada anak bisa diasah sedini mungkin.

“Saat anak membuat doodle, orangtua jangan diam saja. Lanjutkan coretan itu hingga menjadi gambar menarik. Cara seperti itu akan mengasah kreativitas anak untuk membuat gambarnya sendiri,” kata Managing Director PT Faber Castell International Indonesia, Yandramin Halim di Jakarta, Sabtu (29/6).

Penjelasan itu disampaikan usai ber-doodle menandai dibukanya pameran lukisan 3 seniman muda berbakat yaitu Adrie Basuki, Anto Nugroho dan Angga Yuniar Santosa. Pameran bertajuk “Dreams” itu digelar di Plaza Senayan Mall, Jakarta pada 29 Juni-13 Juli 2019.

Coretan Yandramin bersama aktris Happy Salma itu kemudian diubah Angga Yuniar menjadi gambar kelinci lucu. Semua karya menggunakan koleksi pensil warna seri Polycromos, produksi Faber Castell. Pensil warna tersebut memiliki keunggulan yaitu tahan terhadap cahaya.

“Karena itu tak heran jika keindahan warna dari lukisan dengan Polycromos dapat bertahan ratusan tahun. Karena Polycromos sendiri tahun ini memasuki usia 111 tahun,” katanya.

Yandramin mengingatkan orangtua untuk tidak terobsesi dengan hasil atau nilai. Karena dalam dunia seni, tidak ada karya yang disebut bagus atau jelek. Penilaian pada karya seni tergantung pada cara pandang masing-masing individu.

“Inilah indahnya seni. Jadi, jangan takuti anak dalam berkreasi. Karena dalam seni tak ada yang namanya bagus atau jelek,” kata Yandramin menegaskan.

Ia berharap seni doodle diajarkan pada anak Indonesia sejak Taman Kanak-Kanak (TK). Hal itu untuk mengasah daya kreasi seninya, bukan untuk membuatnya jadi seniman. “Ini yang harus dihilangkan dari pola pikir masyarakat kita. Mengajarkan seni itu tak otomatis membuat anak jadi seniman,” katanya.

Pernyataan itu dibenarkan Adrie Basuki. Ia termasuk orang yang tidak berani memasang cita-citanya sebagai seniman saat usia 20-an. Saat kehidupannya mulai mapan saat usianya masuk di angka 30, ia mulai kembali ke cita-cita lamanya sebagai seniman lukis.

“Setelah puas berkarir di dunia kerja seperti keinginan orangtua, kini saatnya mewujudkan impian sebagai seniman. Sejak awal saya suka produk Polycromos karena warnanya yang terlihat lebih cemerlang,” ucapnya.

Hal senada dikemukakan Anto Nugroho dan Angga Yuniar. Menurut Anto, keistimewaan Polycromos adalah warnanya semakin menonjol jika pensil tersebut direndam air. “Saat saya diajak untuk pameran bersama, rasanya seperti mendapat kehidupan kedua. Ini saatnya mewujudkan mimpi, sama seperti tema pameran kali ini, dreams,” ujarnya.

Karya Angga agak berbeda. Ia tidak menggunakan kanvas atau kertas, melainkan kayu yang sedikit diolah hingga seperti lukisan. Setelah itu baru diwarnai dengan Polycromos.

“Banyak pengunjung tak percaya jika lukisan diatas kayu ini menggunakan Polycromos. Memang terlihat berbeda karena, pensil warna itu harus direndam di air dulu sebelum digunakan,” kata Angga menandaskan. (Tri Wahyuni)