Mengembalikan Ruh Pendidikan Kita

0

Oleh: Zulfikri Anas

Berbagai kekacauan, kesenjangan, dan kerusakan keseimbangan alam dan kehidupan yang terjadi akibat agama ditarik dari kebijakan dunia pendidikan. Munculnya persoalan-persoalan kebijakan pendidikan akhir-akhir ini, mulai dari isu tentang kurikulum yang dikembangkan terkesan diam-diam dan eksklusif, tidak mewajibkan Pancasila dan Bahasa Indonesia, peta jalan pendidikan, semua itu bukan sekedar kekhilafan tim penyusun atau sekedar persoalan frasa. Namun, ada persoalan mendasar yang harus diungkap untuk membuka mata kita.

Solusinya tentu tidak cukup dengan klarifikasi karena kebijakan pendidikan bukan lah kebijakan untuk memenangkan semua pihak. Tetapi, memastikan agenda dan ideologi apa yang ada dibalik semua itu. Saatnya kini kita mengembalikan ruh pendidikan agar kita tidak dibutakan oleh cahaya (blinded by the light).

Tujuan pendidikan itu memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif bekerja. Hal ini akan membuka pikiran dan pematangan individu, lalu kematangan ini akan membawa faedah bagi masyarakat. Pikiran yang matang adalah alat kemajuan ilmu, industri dan sistem sosial” (Ibnu Khaldun).

Hanya saja, sains modern mengidap kelemahan mendasar dalam sisi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Karenanya, sains modern tidak dapat bicara hal-hal tentang hakikat realitas yang berada di balik realitas fisik-material akibat pandangannya yang picik dan terbatas pada dunia materi. Dalam kasus ini terjadi desakralisasi ilmu pengetahuan dan pada akhirnya menjadi sumber kekacauan dan kehancuran alam dan kehidupan sebagai akibat dari keserakahan.

***

Lewat berbagai metode ilmu pengetahuan, kita akan mendapatkan gambaran utuh bahwa semua zat, partikel, unsur, mineral, makhluk menempati tempatnya masing-masing. “Tidak ada makhluk yang tercipta sia-sia dalam semesta ini. Semua dengan tujuan, sekecil dan seaneh apapun ciptaan itu. Justeru banyak sekali hikmah dan rahasia tersembunyi di balik proses penciptaannya. Bahkan cicak dan lalat sekalipun tidaklah tercipta kecuali ada hikmah dan rahasia di dalamnya. Seyogiyanya kita mampu menyelami rahasia-rahasia Allah yang Dia titipkan pada setiap makhluknya” (Imam Al Ghazali).

Realitas kosmik ini (Nasr, Sugiantoro, Maimun: 2015) adalah manifestasi keberadaan Allah swt. Pada hakikatnya isi jagad raya memuat pesan-pesan genostik Ilahi. Pelajaran sains modern telah mereduksi dan mendesakralisasi alam kosmik. Alam hanya dihadirkan sebagai objek kajian manusia untuk digunakan, direduksi, dimanipulasi dan dikuasai demi memenuhi segala ambisi. Desakralisasi alam ini dampak dari desakralisasi imu pengetahuan. Proses itu telah membelokkan orientasi pengetahuan yang seharusnya ditujukan untuk penemuan kebijaksanaan yang memancar dari ilahi. Akibatnya rasa kagum atas realitas alam menjadi hilang.

Di dunia ilmu pengetahuan, terjadi pertarungan berkepanjangan antara ideologi masing-masing aliran teori pendidikan, mulai dari teori-teori klasik, positivisme, liberalisme, sampai post-modernisme yang sangat menarik untuk dikaji. Semua saling menunjukkan keunggulannya dengan cara mengungkap kelemahan, terjadi karena semua melihat sebuah keutuhan secara parsial sesuai dengan keyakinannya tersebut. Idealnya, pandangan parsial itu justeru mengikat erat kolaborasi yang saling melengkapi. Namun, hal itu sulit terjadi karena masing-masing memiliki keyakinan dengan agenda tertentu yang tidak terlepas dari kepentingan perluasan pengaruh ideologi, percaturan bisnis-kapitalis, dan perpolitikan global.

Teori post modernisme dianggap teori “tercanggih” karena fokus pada pembebasan setiap individu dalam memilih cara belajarnya masing-masing, serta mendorong mereka untuk menyadari makna perbedaan dan keberagaman dan dibungkus dengan konsep pluralisme. Ini bertolak belakang dengan pendahulunya para penemu dan penganut teori klasik. Teori ini dianggap sebagai perusak tatanan kehidupan yang sesungguhnya karena akan menghasilkan orang pintar dan ahli namun acuh atau cuek terhadap orang lain di luar kepentingan dirinya. Serta, sangat permisif terhadap hal-hal yang diluar norma, termasuk LGBT dan ideologi liberal di semua segi kehidupan.

Dalam teori post modernisme, semua itu dianggap hal yang wajar, itulah takdir seseorang, dan masing-masing bebas menjalankan kehidupannya mengikuti makna yang dibangun masing-masing individu sebagai hasil pendidikan. Sistem ini mampu membutakan orang akibat pengakuan dirinya sebagai orang yang cerdas dan berilmu tinggi. Mata hati mereka telah dibutakan oleh ilmunya sendiri.

Berbeda dengan pandangan Islam yang mengakar kepada sunnatullah, bersifat kaffah, holistik, dan komprehensif. Sesuai misi utama Islam diturunkan ke muka bumi, yaitu mendidik manusia menjadi sosok pribadi insan kamil, beriman, bertaqwa, cerdas, tangguh, kompeten, dan adaptif dalam menghadapi berbagai situasi dan menjadikan harmonis sebagai muara daari semua aktivitas, terutama dalam membangun pendidikan. Keberadaan Islam sebagai ajaran yang mem-paripurna-kan ajaran-ajaran sebelumnya, prinsip, kaidah, dan strategi pendidikan sudah dipersiapkan untuk menjawab semua persoalan pendidikan dan kehidupan sampai akhir zaman, jauh “melampaui” jangkauan teori post-modernisme.

***

Tulisan ini bukan bermaksud memperpanjang apalagi menghentikan perdebatan tersebut, tapi hanya agar semua pihak menyadari bahwa misi utama agama adalah mendidik manusia agar menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia yang utuh dengan keseluruhan perangkat kemanusiaannya. Manusia yang mengakui kekuasaan Allah Swt di balik semua ciptaan-Nya. Perdebatan itu diperlukan untuk mempertajam pemahaman terhadap semua persoalan yang muncul di sepanjang sejarah perjalanan hidup manusia.

Kurikulum dan proses pembelajaran dapat diartikan sebagai janji kita pada anak, memuat segala hal yang berdampak pada cara berpikir, sikap, dan perilaku peserta didik. Juga, bisa disebut sebagai suatu kesempatan untuk berbuat baik, beramal, dengan ikhlas untuk membebaskan semua anak didik dari ketidakberdayaan, kekufuran, dan keterkungkungan yang disebabkan oleh rendahnya kemampuan berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kurikulum itu juga bisa menjadi lahan bagi pendidik untuk beribadah karena lewat kurikulum yang baik para pendidik dengan mudah dapat mengondisikan suasana belajar yang kondusif sehingga setiap individu anak menemukan fitrahnya masing-masing serta menyadari sejak dini. Bahwa, dirinya bertanggungjawab penuh terhadap kehidupan mereka (Allah telah memberikan potensi dan kekuatan positif untuk mebangun dirinya dan mengubah corak kehidupan mereka kea rah yang lebih baik dari waktu ke waktu).

Alam dan kehidupan merupakan hamparan fakta-fakta yang menjelaskan keberadaan Ilahi sebagai pencipta. Secara substansi, kurikulum dan pembelajaran menjadi jembatan bagi setiap peserta didik untuk memahami dan menemukan makna fenomena alam, sehingga terungkap rahasia keteraturan di balik penciptaannya.

Setiap kali manusia mengenal, memahami, atau mengalami suatu peristiwa, di balik peristiwa itu ada tanda-tanda bahwa semua sudah diatur dengan rapi, runtut, dan konsisten. Manusia dituntut untuk fasih membaca tanda-tanda tersebut. Bila semua disadari, berarti kita sedang belajar dari sumber aslinya, yaitu sunnatullah yang pasti valid.

Pemahaman secara induktif dan deduktif berlangsung saling bergantian. Cara ini akan mempertajam daya analisis, keterampilan dan penerapannya, sekaligus akan menguatkan keyakinan manusia terhadap kekuasaan Ilahi. Dengan demikian, antara ilmu pengetahuan dan agama merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ilmu pengetahuan ilmiah memperkuat tauhid, dan tauhid mengamankan kita dari kesesatan dan kemunafikan.

“Otak manusia bukanlah sebuah mesin pemikir semata, tetapi juga ruang terdekat manusia dengan Tuhannya (Taufiq Pasiak, 2012). Pola pikir inilah yang digunakan oleh para pendahulu kita, sehingga dunia ilmu pengetahuan berkembang sejalan dengan penguatan keimanan. ***

Penulis adalah: Penulis Buku Kurikulum untuk Kehidupan