Meningkat, Luas Tanaman Tembakau di Temanggung Capai 17.940 Hektare

0
Petani memupuk tanaman tembakau berumur satu bulan. (ANTARA FOTO)

TEMANGGUNG (Suara Karya): Luas tanaman tembakau di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, pada masa tanam 2019 mengalami peningkatan dibanding 2018 meskipun tidak signifikan, kata Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kabupaten Temanggung, Untung Prabowo.

Untung mengatakan di Temanggung, Senin, luas tanaman tembakau pada masa tanam 2019 mencapai 17.940 hektare, sedangkan luas tanam di tahun 2018 hanya 17,918 hektare.

“Ada penambahan luasan tanam tahun ini sekitar 22 hektare dibanding tahun lalu,” katanya.

Menurut dia, luasan tanaman tembakau di Temanggung tersebar 17 kecamatan di lereng Gunung Perahu, Sindoro dan Gunung Sumbing.

Ia mengatakan dengan kondisi cuaca normal dan pertumbuhan tembakau yang normal produksi tembakau bisa mencapai antara 6,5 sampai 7 kuintal tembakau rajangan kering per hektare.

Namun, karena saat ini terpengaruh cuaca yang cukup ekstrem maka produksi tembakau rajangan kering diperkirakan hanya berkisar 6,25 sampai 6,5 kuintal per hektare.

“Musim kemarau tahun ini lebih dini, jadi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tembakau. Secara otomatis juga berpengaruh terhadap produksi tanaman tembakau,” katanya.

Ia menyampaikan hanya sebagian petani yang memiliki tanaman tembakau yang tumbuh dan berkembang sempurna, terutama petani yang tanam tembakaunya lebih dini yakni sekitar bulan Febuari hingga April lalu.

Bagi petani yang tanam tembakau di akhir bulan Mei hingga Juni pertumbuhan tanaman tembakaunya tidak bisa maksimal, sebab sudah tidak ada lagi hujan. Padahal untuk tumbuh sempurna tanaman tembakau juga membutuhkan hujan.

“Pertumbuhan yang bagus di daerah Kecamatan Tretep, Wonoboyo, dan Ngadirejo, karena sebagian besar petani di daerah ini menanam tembakau lebih awal. Meskipun kurang air tembakau masih bisa berkembang hanya saja tidak maksimal,” katanya.

Ia mengatakan dari sisi kualitas dengan cuaca seperti saat ini akan lebih baik dibandingkan dengan kualitas tembakau tahun 2018. Apalagi saat ini petani sudah kembali menanam tembakau varietas kemloko yang dibutuhkan pabrik rokok kretek.

Ia berharap dengan kualitas tembakau yang semakin membaik ini, pabrikan bisa menyerap seluruh tembakau produksi petani. Terkait dengan harga harus disesuaikan dengan kualitas dari tembakau. (Budiono Tejaumbaran)