Menkes Dukung Pengembangan Rapid Test untuk Demam Berdarah 

0

BALI (Suara Karya): Kimia Farma saat ini tengah mengembangkan teknologi pembuatan rapid test (tes cepat) untuk mendeteksi ada atau tidaknya virus demam berdarah (DB) dalam darah. Rapid test itu diperlukan, mengingat kasus DB di Indonesia masih tinggi.

“Masih tingginya angka kematian pada DB, karena kesalahan saat diagnosa awal. Karena gejala mirip penyakit radang lainnya. Pasien baru dibawa ke rumah sakit setelah kondisinya parah,” kata Menteri Kesehatan (Menkes), Nila FA Moeloek, saat melihat dari dekat proses produksi rapid test di Kimia Farma Bali, Selasa (23/4).

Menkes mengaku bangga, karena rapid test untuk DB merupakan karya anak bangsa. Ia berharap produk tersebut dikembangkan dalam waktu segera, mengingat kebutuhannya sudah mendesak. Produk juga bisa dibuat secara massal agar harganya jadi lebih murah.

“Alat tes itu sangat diperlukan untuk  Indonesia, yang hingga kini masih bermasalah dengan nyamuk demam berdarah. Alat diagnostik itu akan memudahkan petugas kesehatan dalam mendeteksi DB,” tuturnya.

Terkait hal itu, Direktur Pengembangan Bisnis Kimia Farma, Pujianto menjelaskan, prosesnya sudah pada pengembangan bahan baku test kit untuk antibodi monoklonal lokal dilakukan bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) pada Dengue NS1 dan Universitas Andalas untuk antibodi monoklonal lainnya beserta reagensia.

“Pembuatan rapid test sebenarnya bukan hal baru bagi Kimia Farma. Karena saat ini Kimia Farma sudah memiliki izin edar untuk produk tes kehamilan (hCG test), tes hepatitis (HBsAg test), tes sipilis dan tes malaria dan tes dengue (IgG/IgM test),” ucap Pujianto.

Selain itu, masih ada test kit yang saat ini masih dalam tahap pengembangan yaitu tes yang dapat mendiagnosa keberadaan virus HIV 1 and 2 dalam darah dan tes untuk pengguna obat terlarang mulai dari morfin, kokain, mariyuana, amphetamine, methamphetamine, ekstasi dan benzodiazepine.

“Tes kit untuk obat-obatan terlarang yang ada di pasaran masih impor. Jika kita berhasil membuatnya sendiri, tidak saja  menghemat keuangan negara tetapi juga melepaskan ketergantungan kita akan barang impor,” ucap Pujianto menandaskan.

Kimia Farma menjalankan bidang usaha healthcare (kesehatan) dari hulu hingga ke hilir. Lini bisnis yang dimiliki mulai dari manufaktur, riset dan pengembangan, pemasaran, distribusi dan perdagangan hingga ritel.

Untuk pabrik rapid test yang berada di kota Denpasar Bali ini baru dimulai pada awal 2018. Tercatat ada 5 produk tes kit yang dipasarkan untuk kebutuhan pasar dalam negeri. “Ini merupakan komitmen kemandirian Kimia Farma dalam mengembangkan produk lokal Indonesia,”  katanya. (Tri Wahyuni)