Menkes Janjikan Pengobatan Kanker Tak Masuk Urun Biaya JKN

0
foto : (Suarakarya.co,id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek menegaskan, peraturan baru tentang urun biaya bagi pasien BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tidak berlaku untuk penyakit kanker. Urun biaya hanya dikenakan pada penyakit yang potensial disalahgunakan.

“Pengobatan untuk pasien kanker itu tergolong mahal, masak kita suruh bayar. Urun biaya hanya untuk penyakit yang potensial disalahgunakan,” kata Nila disela peringatan Hari Kanker Sedunia, di Jakarta, Senin.(4/1/2019).

Menkes mencontohkan salah satu penyakit yang masuk daftar urun biaya, yaitu operasi caesar. Karena banyak kasus dilaporkan ibu hamil sengaja minta dioperasi caesar. Hal itu terlihat pada rencana tanggal operasi. Padahal pasien tidak punya indikasi medis dan bisa melahirkan secara normal.

“Contohnya cukup satu saja. Karena sebenarnya persoalan urun biaya ini masih dibahas dengan organisasi profesi. Tetapi saya akan minta agar penyakit kanker tidak masuk dalam daftar,” ujarnya.

Nila dalam kesempatan itu mengajak masyarakat Indonesia bersatu melawan kanker. Caranya mudah yaitu menghindari faktor risikonya seperti merokok, rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, diet sehat seimbang dan tidak mengkonsumsi alkohol.

“Karena 43 persen kanker dapat dicegah dengan mengubah faktor risiko,” kata Nila seraya menyebutkan jumlah penderita kanker menempati peringkat kedua terbanyak di Indonesia, setelah penyakit kardiovaskular (jantung dan stroke).

Ditambahkan, penyakit kanker juga membebani pembiayaan kesehatan. Data BPJS Kesehatan 2017 menyebutkan biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan kanket mencapai sekitar Rp2,7 triliun.

Dikemukakan, jenis kanker paling banyak diderita perempuan Indonesia adalah kanker payudara dan kanker serviks. Untuk payudara bisa dilakukan lewat perabaan dengan metode “Sadari”. Sedangkan kanker serviks dilakukan lewat tes IVA.

Sementara itu, kanker yang paling banyak diderita laki-laki Indonesia adalah paru-paru. Hal itu sebagai dampak atas kebiasaan merokok sehari-hari. “Karena 43 persen kanker bisa dicegah, mari kita budayaoaj hidup sehat. Kita semua harus menjadi agent of change di lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN), Soehartati Gondhowiardjo. Katanya, prevalensi kanker di Indonesia terus bertambah dalam 5 tahun terakhir, dari sebelumnya 1.4 per 1000 penduduk pada 2013 menjadi 1.79 per 1000 penduduk pada 2018.

“Karena hingga kini kita belum tahu secara pasti faktor penyebab kanker, apakah usia, gender atau kerentanan keturunan. Yang bisa kita cegah adalah faktor risikonya,” katanya.

Soehartati mengingatkan masyarakat untuk mengurangi konsumsi bahan makanan pabrikan yang banyak tersedia di pasaran. Karena mengandung bahan pengawet, pewarna, perasa dan penyedap yang tidak sehat bagi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan.

“Bahan makanan siap saji ini memang lebih praktis, tetapi tidak sehat jika dikonsumsi setiap hari. Cobalah kembali ke gaya hidup sehat. Hanya mengkonsumsi bahan pangan segar,” ucapnya menegaskan. (Tri Wahyuni)