Menkes Puji Posyandu Mandala Sari Tingkatkan Gizi Balita

0
?

BALI (Suara Karya): Menteri Kesehatan memuji kreavitas para ibu yang tergabung dalam Posyandu Mandala Sari, Denpasar Bali dalam meningkatkan gizi balita. Karena gizi memainkan peran penting dalam tumbuh kembang anak.

“Jika anak tidak suka sayuran, jangan dibiarkan makan sesukanya. Karena tumbuh kembang anak tergantung asupan anak sehar-hari,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek saat berkunjung ke Posyandu Mandala Sari di kota Denpasar, Bali, Rabu (24/4).

Posyandu Mandala Sari saat itu menampilkan olahan makanan dari daun kelor dalam bentuk jeli, kripik daun kelor, nuget, dan sayur bening. Variasi makanan itu disukai anak pendidikan anak usia dini (PAUD) Mandala Kumara yang berada disebelah gedung Posyandu.

“Dalam setiap kunjungan ke daerah, saya selalu ingatkan pada pengurus Posyandu untuk melakukan terobosan dalam pengolahan makanan bagi balita. Karena hingga kini kasus stunting masih menjadi masalah bagi Indonesia,” ujarnya.

Ditambahkan, kasus stunting kebanyakan terjadi bukan karena tidak ada bahan pangan di lingkungan rumahnya. Namun, kurangnya kreavitas ibu dalam mengolah makanan. Sehingga anak makan makanan yang disukai, bukan yang mengandung gizi lengkap.

“Indonesia yang merupakan negara tropis, kaya akan tumbuhan yang baik untuk dikonsumsi. Tetapi anak kadang hanya makan pakai krupuk atau mie instan tanpa sayur yang kaya serat atau telor sebagai sumber protein,” tuturnya.

Dijelaskan, stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Stunting terjadi karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi.

“Proses stunting bukan saat anak telah dilahirkan, tetapi mulai dari dalam kandungan. Kondisi itu baru terlihat nyata saat anak berusia dua tahun,” katanya.

Data Kementerian Kesehatan 2018 menyebutkan, kasus stunting di Indonesia mencapai angka 37,2 persen. Itu artinya, 4 dari 10 anak di Indonesia dipastikan mengalami stunting.

Sementara menurut Badan Kesehatan Dunia Unicef, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. (Tri Wahyuni)