Menko PMK Jenguk Korban Tragedi Kanjuruhan di Rumah Sakit

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyesalkan terjadinya kerusuhan antar suporter usai pertandingan Liga 1 Jawa Timur, Arema FC vs Persebaya Surabaya, di Stadion Kanjuruhan di Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/22) malam.

Pertandingan yang berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Persebaya itu menjadi ricuh. Kondisi makin tak terkendali sehingga menimbulkan korban meninggal dunia hingga 130 orang dan 180 korban luka-luka.

“Saya mengucapkan bela sungkawa dan ikut prihatin atas kejadian tersebut. Semoga kejadian itu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua,” kata Muhadjir.

Menko PMK didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Bupati Malang saat menengok korban tragedi Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang yang dirawat di beberapa rumah sakit (RS) seperti RS Kepanjen dan RS Syaiful Anwar Malang. Muhadjir juga meninjau kondisi terakhir stadion Kanjuruhan.

Muhadjir berharap kejadian seperti itu tak terjadi lagi di masa depan. Seluruh stakeholder sepakbola harus duduk bersama, lalu melakukan evaluasi total dan transparan. Diharapkan ada solusi untuk persepakbolaan Indonesia.

“Pemerintah saat ini akan fokus pada penanganan darurat insiden dan korban, baik yang luka maupun tewas. Bagi korban luka di rumah sakit tidak dipungut bayaran. Untuk korban meninggal, keluarga akaj diberi santunan dari pemprov maupun pemkab,” ujarnya.

Menko PMK minta penegak hukum segera mengusut tuntas semua pihak yang bersalah atas kasus itu. “Saat ini kita fokus ke masalah investigasi dan penanganan korban. Nanti kita lakukan rekonstruksi peristiwa, lalu tentukan sikap, sambil menunggu keputusan presiden,” katanya.

Tragedi kerusuhan Kanjuruhan diduga terjadi saat pendukung Arema tidak menerima kekalahan atas Persebaya. Suporter yang turun ke lapangan bersikap anarkis dengan memaksa petugas keamanan untuk bertindak, termasuk melontarkan gas air mata.

Dalam tragedi itu, lebih dari 130 orang tewas akibat sesak napas maupun karena terinjak-injak. Sekitar 180 luka luka dan dirawat. Peristiwa 1 Oktober 2022 ini menjadi tragedi kerusuhan terburuk di dunia persepakbolaan Indonesia. (Tri Wahyuni)