Menko PMK Pastikan Bantuan Gempa Cianjur Sampai hingga Lokasi Terisolir

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memastikan bantuan untuk korban gempa Cianjur sampai ke lokasi yang terisolir.

Pernyataan itu disampaikan saat meninjau ke sejumlah lokasi terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, Rabu (30/11/22).

Dalam kunjungan itu, Menko PMK didampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Penny K Lukito, dan Dirjen Pemberdayaan Sosial, Kementerian Sosial, Edy Suharto.

Muhadjir beserta rombongan mengendarai sepeda motor saat mengunjungi Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Desa itu masuk wilayah terdampak parah yang sempat terisolir, karena akses transportasi terputus.

Kedatangan Muhadjir ke lokasi bertujuan untuk memastikan penyaluran bantuan berjalan baik dan tidak terhambat.

Dalam kunjungannya, Muhadjir menyaksikan warga telah mendapat bantuan logistik berupa paket sembako, paket kebersihan keluarga, tenda keluarga, selimut dan matras untuk tidur.

“Alhamdulillah semua bantuan sudah tersalurkan ke lokasi, yang katanya terisolir. Meski pengiriman harus menggunakan motor dan berjalan kaki,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menko PMK juga mengecek beberapa bangunan rumah warga yang terdampak rusak parah. Termasuk bangunan sekolah, masjid, dan madrasah.

Muhadjir menyatakan, pemerintah melalui Kementerian PUPR dan Kementerian terkait lainnya akan menginventarisir berbagai kerusakan untuk kemudian di lakukan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Sebelumnya, Menko PMK bersama rombongan juga mengecek proses pendataan verifikasi kerusakan rumah warga yang dilakukan BNPB bersama relawan mahasiswa teknik sipil di salah satu rumah warga yang terdampak di Desa Sirnagalih.

Data BNPB hingga 29 November menyebutkan, sebanyak 14.490 rumah terdata kerusakannya dan telah diverifikasi oleh pihak BNPB. Kepala BNPB menyatakan, data tersebut telah dikunci untuk gelombang pertama proses pembangunan hunian oleh BNPB, Pemda, dan Kementerian PUPR.

Nantinya, proses rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga akan dipilah berdasarkan tingkat keparahannya. Untuk rusak ringan akan diberi dana untuk perbaikan rumahnya sendiri. Rusak sedang akan diperbaiki dengan struktur tahan gempa oleh BNPB dan Kementerian PUPR.

Untuk rumah warga yang rusak berat dan tidak bisa dihuni lagi karena berada di zona rawan, pemerintah menyediakan tempat relokasi khusus. Pemkab Cianjur menyediakan sekitar 16 hektar lahan yang siap bangun tempat relokasi oleh BNPB dan Kementerian PUPR yang bisa mencakup sekitar 1500 keluarga.

Salah satunya yang dikunjungi Menko PMK adalah lahan yang ada di kawasan lahan hijau Dinas Lingkungan Hidup Cianjur, di Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku. Di lahan seluas 2,5 hektar itu rencananya akan dibangun rumah yang akan menjadi tempat relokasi.

“Di sini akan dibangun sekitar 200 rumah untuk warga yang tinggal di daerah rawan dan tidak bisa dihuni lagi. Ini dilakukan secara simultan paralel dengan tanggap darurat untuk mempersingkat penderitaan warga,” ujarnya.

Muhadjir mengatakan, pembangunan dilakukan oleh BNPB, Kementerian PUPR bersama dan Pemkab Cianjur. Rumah dengan tipe 36 itu akan dibangun secepatnya.

“Nanti akan dipilih siapa saja yang akan menghuni. Relokasi dilakukan Bupati dan tim yang tahu wilayah tersebut,” katanya. (Tri Wahyuni)