Menristekdikti Optimis Publikasi Internasional Indonesia Ungguli Malaysia

0
PEKANBARU (Suara Karya): Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengaku optimis publikasi internasional Indonesia akan ungguli Malaysia pada akhir tahun ini. Mengingat selisih jumlah  sekitar 700 dokumen.

“Dua tahun lalu, selisih jumlah publikasi internasional Indonesia dengan Malaysia masih 5.400 dokumen. Kekurangannya sekarang tinggal 700 dokumen,” kata Nasir usai acara Bakti Inovasi Tanam dan Panen Padi, di Desa Pulau Tinggi, Kabupaten Kampar, Riau, Kamis (9/8).

Nasir berharap Indonesia bisa menjadi “leader” dalam publikasi ilmiah di Asia Tenggara. Hal itu penting, karena kemajuan suatu negara bukan karena berpenduduk besar, tetapi memiliki riset yang tinggi.

“Kami harap hasil riset internasional ini bisa dikembangkan menjadi industri untuk kemajuan ekonomi Indonesia,” tuturnya.

Nasir menilai, riset di Indonesia selama ini belum mendapat perhatian yang seriua. Hal itu terlihat pada jumlah publikasi internasional pada 2015 lalu sebanyak 2400 dokumen. Sementara Thailand 9500 dokumen, Singapura 12 ribu dan Malaysia 17 ribu.

“Betapa menyedihkan, Indonesia dengan penduduk besar dan jumlah perguruan tinggi hingga 4 ribu, jumlah publikasi internasional hanya 2.400 dokumen,” ujarnya.

Minimnya publikasi internasional, lanjut Nasir, karena kendala para penelitia dalam pertanggungjawaban keuangan. Saat ini, riset dibuat berbasis output. “Hasil penelitian kita langsung melejit. Karena peneliti tak lagi ribet urusan keuangan,” ujarnya.

Ia mencontohkan bencana gempa di Lombok beberapa hari lalu. Bencana tersebut bisa menjadi penelitian. Bagaimana teknologi bisa mengatasi masalah itu. “Dulu riset berhenti di perpustakaan. Sekarang bagaimana hal itu bisa memberi manfaat pada dunia usaha dan masyarakat,” katanya.

Untuk itu, lanjut Nasir, pihaknya akan melakukan perampingan di tubuh organisasi di perguruan tinggi. Agar mereka bergerak lebih lincah dalam mengadaptasi perubahan. “Struktur organisasi di perguruan tinggi kita masih terlalu gemuk. Semua orang jadi pejabat, penelitinya jadi minim,” ujarnya.

Hasil penelitian yang dilakukan World Economic Forum menunjukkan global competitiveness Indonesia berada pada posisi 36 dari 137 negara. Rangking itu terbilang rendah jika dibandingkan Malaysia, Singapura dan Thailand.

“Indonesia berada dibawah, karena kita kalah dalam pendidikan tinggi dan pelatihan. Masalah pengangguran terdidik ini patut mendapat perhatian. Bagaimana caranya agar perguruan tinggi kita tak menghasilkan lulusan yang tidak bisa berkontribusi di masa depan,” ujarnya.

Selain itu, menurut Nasir, mahasiswa Indonesia terlalu banyak belajar masalah sosial. Sementara mahasiswa yang belajar sains sangat sedikit. Padahal mereka sangat diperlukan sebagai sumber daya manusia pembangunan.

“Riset kita juga belum terpetakan. Jika pun sudah hari ini, ternyata bukan riset terapan. Apalagi berupa inovasi,” kata Nasir menandaskan. (Tri Wahyuni)