Menteri Susi Apresiasi Pengelolaan Perikanan Pemda Jateng

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP) mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng), mulia dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga desa. Mereka dinilai telah mengeluarkan aturan untuk pengelolaan perikanan rajungan yang berkelanjutan, khususnya di Desa Betahwalang ini, Demak, Jawa Tengah.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam lawatan kerja di Desa Betahwalang pada, Senin (29/7/2019) mengatakan, KKP mengapresiasi kinerja aparat pemerintah daerah dalam menindaklanjuti Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 70 tahun 2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Rajungan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia,.

Dalam sambutannya Susi mengatakan, rajungan merupakan komoditas penting dengan nilai ekspor hasil perikanan terbesar ketiga di Indonesia dengan tujuan ekspor utama adalah Amerika.

Tingginya permintaan konsumen terhadap rajungan memungkinkan terjadinya penurunan stok rajungan di alam. Hal ini yang mendasari pentingnya dilakukan pengelolaan perikanan rajungan yang berkelanjutan agar sumber daya ini tetap lestari.

Untuk itu, untuk meninjaklanjuti Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 70 tahun 2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Rajungan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, di lingkup Jawa Tengah telah diterbitkan Peraturan Gubernur Nomor 33 tahun 2017 tentang Pengelolaan Perikanan Lobster, Kepiting, dan Rajungan di Jawa Tengah, selanjutnya di Demak telah diterbitkan Keputusan Bupati Demak Nomor 523 Tahun 0166 tahun 2016 tentang Pengelolaan Perikanan Rajungan di Demak, serta khusus di telah diterbitkan Peraturan Desa Betahwalang Nomor 2 tahun 2019 tentang Pengeloaan Perikanan Rajungan di Betahwalang.

“Dalam peraturan desa tersebut diatur hal-hal yang dilarang terkait penangkapan rajungan untuk menjaga habitat dan kelestarian sumber dayanya,” kata Susi.

Ditegaskannya, salah satu langkah yang kita lakukan, KKP terus mendorong penggunaan alat penangkapan ikan (API) ramah lingkungan untuk menangkap rajungan dengan jenis bubu.

Menurutnya, selain ramah lingkungan, penggunaan API bubu juga menjadikan rajungan lebih terjaga kulitasnya sehingga harga jualnya menjadi lebih tinggi.

“Rajungan dengan API bubu, tandas Susi, dapat dijual seharga Rp75.000 – 90.000/kg, sementara menggunakan API arad yang dijual dengan harga di bawah Rp70.000/kg,” kata Susi.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, KKP M Zulficar Mochtar mengungkapkan, kontribusi rajungan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 712 yang meliputi perairan Laut Jawa sekitar 46,6 persen.

“Ini menunjukkan bahwa WPP 712 merupakan penghasil rajungan terbesar di Indonesia. Pusat rajungan di Provinsi Jawa Tengah terdapat di Kabupaten Pemalang, Demak, Pati, dan Rembang,” tegasnya.

Dikatakan Zulficar, di Desa Betahwalang terdapat 670 unit kapal perikanan yang melakukan penangkapan rajungan dan desa ini telah ditetapkan sebagai kampung rajungan. Diharapkan, masyarakat dapat mengelolanya secara berkelanjutan. (Pramuji)