Merebut Hati Pemilih Strategis

0
Swantoro, peneliti PARA Syndicate

Oleh Swantoro (Peneliti PARA Syndicate)

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan jumlah Pemilih Tetap. Dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu dan Pilpres 2019 tercatat 185.732.093 orang pemilih.

Sementara, pemilih di luar negeri sebanyak 2.049.791 orang. Jumlah pemilih laki-laki sebanyak 92.802.671 orang dan pemilih perempuan sebanyak 92.929.422 orang.  Pemilih di dalam negeri berasal dari 34 provinsi, 514 kabupaten/kota, 7.201 kecamatan, dan 83.370 kelurahan/desa. Mereka akan memilih di 805.075 TPS.

Sedangkan jumlah pemilih laki-laki di luar negeri mencapai 984.491 orang dan pemilih perempuan di luar negeri mencapai 1.065.300 orang. Sebanyak 517.128 pemilih luar negeri akan mencoblos di 620 TPS yang disiapkan di tiap-tiap Kedutaan Besar. Sebanyak 808.962 pemilih di luar negeri akan memberikan suaranya melalui 1.501 kotak suara keliling (KSK). Dan, sebanyak 723.701 pemilih luar negeri menggunakan pos. KPU menyiapkan fasilitas pos bagi mereka sebanyak 269 unit.

Pemilih Strategis

Dikategorikan sebagai pemilih strategis adalah yang dijuluki “Generasi Milenial dan Pemilih Pemula”.

Generasi milenial (18 – 38 tahun) termasuk para pemilih pemula (18-21 tahun) menjadi kelompok pemilih  yang diincar praktisi politik pada Pemilu dan Pilpres 2019. Suara mereka menyumbang suara terbanyak dari seluruh segmen pemilih di Indonesia. Suara pemilih milenial proporsinya sekitar 34,2 % dari total 185.732.093 pemilih.

Sering disebutkan dalam media, mereka bakal menentukan arah politik bangsa Indonesia ke depan. Meski demikian, generasi milenial tidak selalu mendukung calon yang berasal dari generasinya. Ada beberapa faktor terkait kapabilitas dan lebih memilih incumbent yang sudah ketahuan berprestasi. Itu terjadi dalam Pilkada Gubernur, Bupati, dan Walikota. Generasi milenial termasuk pemilih kritis dan rasional, serta mereka mau berpartisipasi dalam politik yang non-konvensional.

Hasil survei CSIS (2017) menyebutkan sekitar 81,7% generasi milenial pengguna Facebook, 70,3% pengguna whatsapp, dan 54,7% pengguna instagram.

Ada tiga kelompok generasi milenial. Pertama, kelompok apatis. Mereka alergi terhadap politik dan menarik diri dari proses politik yang ada. Kedua, kelompok spektator. Mereka kurang tertarik pada politik praktis, tetapi masih mau menggunakan hak pilihnya. Ketiga, kelompok gladiator. Generasi milenial ini aktif dalam politik praktis seperti aktivis partai, aktivis organisasi dan mereka sering ikut  kampanye pawai alegoris.

Jadi, meraih suara dari generasi milenial ini akan besar dampaknya bagi pemenangan Pemilu Legislatif atau Pemilihan Presiden 2019.

Pemilih Perempuan

Jumlah pemilih perempuan lebih banyak 126  ribu orang dibanding pria. Jumlah pemilih laki-laki dalam negeri mencapai 92.802.671 orang. Sementara, jumlah pemilih perempuan di dalam negeri mencapai 92.929.422 orang.

Ada pun, jumlah pemilih laki-laki di luar negeri mencapai 984.491 orang dan pemilih perempuan di luar negeri mencapai 1.065.300 orang.  Dari data tersebut, jumlah pemilih wanita merupakan kelompok pemilih strategis yang tidak boleh diabaikan.

Ingat, dalam Pilpres 2004 dan Pilpres 2009, kandidat Presiden SBY, menggunakan taktik merangkul wanita. Kebetulan, SBY waktu itu masih langsing dan gagah, serta kesannya (lebih) cerdas dibanding lawan2nya.

Pertanyaannya bagaimana meraih suara dari ketiga pemilih strategis itu, yakni generasi milenial; pemilih pemula; dan pemilih wanita sebanyak-banyaknya. Jika itu bisa dilakukan maka partai politik dan capres-cawapres yang berlaga dalam Pemilu dan Pilpres 2019 niscaya akan menang. Syaratnya, menguasai ketiga pemilih strategis tersebut.*